Sayap Terbang

Sayap patah

Disini gersang namun hujan, disana?

Yap! Dari jendela sini saya hanya melihat tetes-tetes hujan mulai menghujam bumi, mengetuk-ngetuk bumi bagai jemari saya yang sibuk mengetik. Sedang menegetik apa? Ah, tidak perlu saya memberitahukannya. Di luar mulai gelap, dilatar belakangi blitz-blitz kilat dan gemuruh tawa atau amukan petir-Nya.

Laptop yang menyala, secangkir kopi yang setengah berisi, jendela yang bertitik-titil hujan, mata yang sesekali menerawang keluar jendela, jemari yang sesekali berhenti mengetik lalu malah pindah ke kaca jendela membentuk sebentuk gambar di jendela yang berembun, hidung yang iseng menghirup aroma kopi lalu menghembuskannya dengan mulut tepat di gambaran jendela yg berembun. Yah…iseng saja.

Sore tadi panas, lalu seketika hujan.

Sore tadi saya jatuh, terluka, meratapi luka, bangkit, dan terbang!

Bagaikan burung yang sayapnya patah… Ahhhh…saya paling malas menggunakan istilah ini! Sangat melankolis!

Tapi yaaahhh, memamng mungkin cuma 4 kata itu yg cukup mewakili: “burung yang sayapnya patah”.

Tadinya saya mau menggunaka istilah “kapal yang tiang layarnya patah” tapi kok ya kurang gimanaaaaaa. (*emang gimana coba????*)

Eniwei…

Lupakan perdebatan saya sendiri dengan istilah yang mau saya gunakan.

Yep, bagaikan “burung yang sayapnya patah”, saya terkejut, tidak bisa terbang lagi, walaupun saya sangat mau untuk terbang! Tapi ternyata sayapnya tidak bisa mengepak. Merintih, meratapi sayap sendiri, menagap tidak bisa mengepak? Bagaimana caranya agar bisa mengepak?

Rasanya sudah terperosok jatuh jauh ke dalam jurang, tidak ada teman berbagi derita, bahkan untuk berbagi cerita… (*eh…ini kok jadi lirik lagu Tante Vina Panduwinata?! Muehewhewhew… 😀 )

Mungkin bagi beberapa orang butuh sayap baru untuk membantu keluar dari sini, dan mungkin memang begitulah caranya. Bersyukur… yang Maha Kuasa, mengirim hikmah. Datang begitu saja. Ya, begitu saja tanpa diduga. Bukan untuk mengulurkan sayap untuk dipinjamkan, bukan untuk membawa saya terbang dengan sayap lain. Bukan! Saya dicambuk untuk mengepakkan sayap saya sendiri! Saya dibiarkan tertatih belajar mengepakkan sayap saya sendiri dengan perih yang tidak terhingga!

Berkali-kali saya pikir tidak akan sanggup mengepak lagi, tapi lebih seringnya saya mencoba lagi!

Sekeras saya meragukan mampu mengepak lagi, sesering usaha saya untuk terus mencoba!

Saya jadi lupa tadinya saya meratapi sayap yang tidak bisa mengepak, saya lupa tadinya saya terus bertanya-tanya bagaimana caranya, saya lupa perihnya yang tidak terhingga! Hingga saya benar-benar mampu mengepak dengan sayap saya sendiri dengan kepakkannnya yang unik bekas dari deraan yang membuat kepakannya berbeda!

Bukankah itu gunanya Dia berikan sayap?

terbang

Seperti itulah gersang namun gerimis. Disini.

Disana?

——————————————————————————————————————————————————

*Kepada burung-burung yang sayapnya terbang, tulisan iseng ini hanyalah iseng-iseng diantara tulisan-tulisan iseng lainnya yang tidak dipublish (*muehewhewhew… 😀 )

Sambil menanti hujannya reda. Hayuuukkkk…dengarkan lagu ini… 🙂