30 hari yang lalu, Pa.

to My Mam and Dad… I LOVE YOU cause Allah.

 

Assalamualaikum…

Pa… Ayu rindu. Kami rindu. Dan kami tau bahwa Allah lebih sayang Papa dari pada cara kami menyayangi Papa, sehingga Allah telah lebih dahulu memanggil Papa, sementara kami disini masih menunggu.

 

Pa, hari ini tepat 30 hari sejak Papa terus hidup di hati kami. Pa, sejak Papa tidak sapat lagi kami lihat, tentu saja semua berubah Pa. tapi kami masih terus berusaha mengkondisikan diri kami untuk semakin menerima, semakin mencintai keputusanNya. Ini garis tangan kita yang sudah lebih dahulu dituliskanNya di Lauh Mahfuz.

 

Pa,

Sejak hari itu, sebulan yang lalu. Setelah dokter menyatakan bahwa Papa sudah tidak ada. Ayu peluk Mama, Pa. Ayu janji untuk jaga Mama. Mama nangis Pa, nangis tepat disamping tubuh Papa, memangis di sisi telinga kana Papa. Ayu peluk Mama yg memangis tanpa suara. Mama tidak meraung, Pa… Mama hebat! Mama kuat! Mama hanya lunglai dan menangis tanpa suara. Ayu terus memeluk Mama dari belakang dan katakan pada semua dengan suara tegas: “Innalillahiwainnailaihi rojiun… Ndak apa-apa… Papa udah senang, Papa udah ga sakit lagi sekarang.”

Pa….sakiiitttt sekali sebenarnya saat katakan itu, sakit tapi tidak tau dimana.

 

Pa…

dini hari itu juga Dokter dan perawatnya kasih tau Ayu prosedurnya bahwa jenazah dimasukkan dulu ke ruang jenazah selama lebih kurang satu jam, (perawatnya bilang: “ada mati Suri, dek…”),  tapi juga boleh langsung dibawa pulang. Kami ikut peosedur aja Pa. Ayu kuat-kuatkan diri untuk mengurus semua surat-suratnya, walaupun rasanya bumi ini bagaikan agar-agar, lembek, lunak, dan Ayu serasa akan ditelan hilang selama-lamanya. Tapi Ayu harus kuat kan Pa?

 

Pa… sementara menunggu Papa yang dibawa ke ruang jenazah, Ayu ke ruang apotek dan Adm, katanya harus selesaikan semua admnya. Pa… Ayu genggam semua uang itu Pa. Sambil menahan tangis, Ayu tanya apa aja yg harus diselesaikan… Pa, betapa rasanya luluh hancur seluruh tubuh Ayu saat semua rincian pembiayaannya keluar… Papa masih saja tidask mau membuat kami panik. Ini semua bahkan tidak ada apa-apanya Pa. Ayu genggam banyak duit, Pa. Banyak sekali. tapi ternyata yang harus dibayar hanya mengeluarkan selembar duit, Pa. Selembar duit berwarna biru. Pa…. pediiiiihhhh!!!! Bahkan ini jauuuuuuhhhhhh dibandingkan pulsa Ayu yg diam-diam Papa isikan. Dan jauuuuuhhh…dari harga pasta gigir Ayu yg diam-diam Papa belikan dan letakkan di kamar mandi Ayu.

Pa…kenapa begini???? Ayu minta kasirnya utk cek sekali lagi, tapi memang benar segitu Pa. Itu juga karena Allah berikan biaya tanggungan asuransi kesehatan tempat Papa bekerja, hak Papa. Ayu gemetar menggenggam seluruh uang itu Pa… apalah artinya semua itu.

 

Pa… satu jam Papa sendirian di ruang jenazah, gelap, sunyi Pa… Ayu tunggu diluar. Kata perawatnya hanya 1 orang yang boleh ikut, dan perawat bilang Ayu saja yg ikut, sementara Mama diminta untuk didampingi terus. Mama tenang pa, hanya menangis dalam diam, pasti pedih sekali rasanya bagi Mama kehilangan Papa di dunia ini. Pa…beberapa sudah berdatangan dini hari itu di rumah sakit. Wido masih terus mendampingi kami, Nia dan Mamanya dari sejak awal Papa masuk IGD juga, ada Kak Rizca dan keluarga yang langsung datang dari Bangkinang, ada Om Al yang ngebut pakai honda dari Payakumbuh ke Pekanbaru,dari Ujung batu  ada Mak Uo dan keluarga – Nte Butet dan keluarga – Bang Imon dan keluarga. Ada beberapa sanak famili kita juga, ramai Pa. Semua limbung, berusaha menguatkan diri.

 

Pa…waktu Bang Anang sampai, rasanya Ayu ga sanggup utk melihat Bang Anang. Bang Anang menghambur memeluk Mama yang berdiri disamping Kak Rizca yang sedang hamil besar, disusul kak Shanty yang memeluk kak Rizca. Semua menangis Pa. Ayu memilih sedikit menghilang. Ayu takut air mata Ayu pecah tumpah ruah, Ayu hanya memeluk sekedarnya lalu memilih sibuk mengurus ambulance.

 

Pa….

setelah satu jam Papa diruang jenazah, Papa terbaring kaku, lebih dingin. Kemudian Ayu dan perawat menyusuri lorong gelap Pa. Kita bertiga… Papa, Ayu, dan Perawat itu. Kita menuju ruang pemularasan jeazah. Seseklai perawat melontarkan pertanyaan sama Ayu, mungkin supaya Ayu ga sibuk dengan imajinasi-imajinasi Ayu sendiri yang berharap Papa bangun lagi. Perawat itu mengajak Ayu bicara, tapi Ayu hanya menjawab sedikit. Sampai di ruang pemularasana, Ayu mesti dihadapkan lagi ke petugas yang menanyakan beberapa keterangan dari Ayu, Ayu tandatanagi lagi surat pengambilan jenazah. Rasanya mau protes waktu di dpean nama Papa sudah tertera “ALM”. TIdak pernah Ayu membayangkan akan membaca nama Papa ditulis begitu.

 

Lalu, Papa sudah di dalam ambulance. Supirnya sudah menunggu Ayu. Sebelum Ayu naik ke ambulance, Om Al lari-lari susul Ayu… “Yu, Ayu aja yg di ambulance? Berdua sama supir ambulance nya?”

Ayu jawab dengan tanpa perasaan: “Ayu sama Papa, Om. Papa menemani Ayu.”

Entah apa yang ada dalam fikiran Om waktu itu, yg jelas waktu itu Ayu memang mau berdua dengan Papa. Ayu dan Papa pulang ke rumah kita.

 

Pa… sesampainya di komplek perumahan kita, dini hari itu ramai sekali Pa. Ramai. Ayu bahkan ndak ingat udah ada siapa aja. Ramai, Pa. Dini hari itu juga setelah mengambil beberapa keperluan dan berdoa bersama yang sudah hadir, kita langsung pulang ke Bangkinang, Pa. ke rumah yang Papa rindukan. Sering sekali Papa katakan: “Kapan kita bisa tinggal di Bangkinang lagi?” Ya, Pa…tinggal di Pekanbaru ini bukannya tidak menyenangkan. Hanya saja mungkin karena kita telah lama tinggal di Bangkinang, sehingga kita selalu rindu saat-saat berkumpul di rumah kita yang di Bangkinang. Kalaupun kita pulang biasanya kita pulang hanya untuk 1-3 hari, tidak seperti dulu dimana kita memang menetap di Bangkinang, berbahagia dengan segala lika-liku disana,

 

Pa… diperjalanan pulang ke Bangkinang, Mama ndak mau pisah dengan Papa. Mama duduk disamping Papa, memeluk Papa. Pediiiihhh Pa saat mata Ayu sesekali melihat peritiwa itu dari spion depan ambulance. Tidak ada sama sekali yg berbicara sepanjang jalan, sibuk dengan air mata dan fikiran masing-masing. Kita rame-rame Pa, konvoi pulang ke Bangkinang, semua pulang, Pa.

 

Pa…

jam setengah 4 subuh, Alhamdulillah kita semua sampai di rumah kita di Bangkinang, sudah ramai Pa. Ramai sekali. Sampai adzan subuh, barulah sepi karena semuanya memnunaikan Sholat Subuh.
Pa, rasanya Papa tidur saja di tempat tidur di ruang depan itu Pa… di bawah kaligrafi ayat kursi dari kayu Jati. Papa memang penggemar kayu jati, kayu yang kokoh, seperti Papa.

 

pa, hari itu rasanya waktu cepat sekali bergulir. Saudara-saudari dari mana saja silih berganti berdatangan.

HIngga jam 10 pagi hari itu, 8 Mei 2013, Papa dimandikan.
Pa….badan Papa masih hangat saat dimandikan. Terbayang semua yang Papa lakukan untuk kami, Papa yg selalu memandikan kami masih kecil. Papa yg rajin mengucir rambut Ayu, Papa yang belikan Ayu bedak saat Ayu mulai bertingkah seperti laki-laki. Papa yang diam-diam tau apa yang Ayu mau lalu tiba-tiba apa yang Ayu mau itu Papa wujudkan karena Allah. Papa yang kadang-kadang bikin teman-teman Ayu takjub. Papa yang kadang pemarah namun sebenarnya sangaaaaatttt peduli. Papa yang kadang menebak-nebak isi pikiran Ayu karena kata Papa: “Ayu ni satu-satunya orang yang ndak pernah kita tau maunya apa, ndak pernah bilang. Kita hanya bisa nebak apa yang dia mau.” Tapi hampir selalu Papa tau apa yang Ayu mau. :’)

 

Papa yang dengan caranya yang unik memahami karakter kami semua…. :’)

Papa yang kadang ndak peduli orang-orang sekitar mencap beliau begini-begitu, toh ternyata seberanya di saat orang-orang ndak tau, Papalah yang paling peduli dan mengurus ini-itu walaupun orang-orang tetap ndak tau. :’)

 

Pa…

masih banyaaaaaakkk yg Ayu tulis, tapi ndak semua Ayu publish disini. Biarlah beberapa Ayu simpan, beberapa Ayu publish.

Pa…

sekarang Papa sudah tenang disana. Di atas makam Papa sudah ditaburi batu putih Itali.

 

Pa…

Caka selalu bilang: “Atuk Caka sudah meninggal, Atuk Caka udah sehat, Atuk Caka udah bisa jalan, tapi kita ndak bisa liat Atuk lagi. Ayo kita berdoa untuk Atuk… Ya Allah ampuni Atuk Caka, lindungi Atuk Caka… Amin…”

 

Pa..

tanggal 16 mei 2013, putra pertama Bang Nanda telah lahir dengan selamat, Pa. Cucu kedua Papa dari Putra kedua Papa. Alangkah senangnya hati kita semua, hati Papa juga. Alhamdulillah… ada yang pergi, ada yang datang.

Pa…masih jelas beberapa hari sebelum Papa pergi, Papa masih cerita-cerita: “Gimana ya kalo semua cucu-cuc Papa ngumpul? Ramai. Nanti Caka main sama Raffa.”

ya Pa…namanya Raffa, seperti yang sudah Bang Nanda dan Kak Rizca rencanakan setelah USG dan diberitau kalau bayinya laki-laki. Wkatu itu Papa senang, Papa lama menatap foto USG Raffa. Ya Pa… alhamdulillah Raffa lahir Pa. Namanya Raffael Adhyaksa Fernanda, dan dia hebat seperti Atuknya. InsyaAllah…. :’)

 

Pa…

Caka masih cemburu sama Raffa, tapi curi-curi pandang, lucu Pa. Kalau Raffa ndak kelihatan oleh mata Caka ntar ditanya Caka: “Adeknya mana?” Tapi kalo udah nampak Raffa, dicuekinnya sibuk main sana-sini ndak pedulikan Raffa. Tapi sekali-sekali curi pandang juga, lucu Pa….

 

Caka dan Raffa pelipur lara kami Pa…

 

Pa…

semoga Papa berbahagia disana. Semoga Allah melindungi Papa, semoga amal ibadah papa diterima Allah, semoga Papa dijauhkan dari azab kubur dan dibangkitkan kembali dengan baik oleh Allah. Allah sangat sayang sama Papa, sama kita, sama seluruh hambaNya.

 

Pa…

Ayu masih terus rindu sama Papa. Tidur ditempat tidur Papa. Masih ada beberapa berkas-berkas kematian Papa yg sedang diurus, kami sedikit kelimpungan karena ndak tau mengenai ini semua. Apalagi kita sekarang di Pekanbaru, tapi KTP kita masih KTP Bangkinang, dan Papa pegawai di Pasir Pengaraian. Jadi kita bolak-balik mengurusnya Pa. Seru

 

Pa… waktu mencari beberapa surat-surat papa, betapa kagetnya kita membuka koper kesayangan Papa yg waktu itu ngotot papa pinjamkan ke Ayu di bulan November waktu Ayu ada pelatihan di Jakarta. Koper itu berisi penuh dengan rapi semua baju-baju kesayanagn papa, hampir semua barang-barang Papa ada  disana, seolah Papa akan pergi jauh. Dulu, mama sering tanya kenapa Papa jarang memakai baju-baju dan barang-barang itu, Papa bilang karena ini dipakai sekali-sekali saja disaat-saat penting. Pa… bagai orang sakit jiwa, Ayu mengambil semua baju-baju tu menciumnya satu persatu, mencari-cari aroma Papa, foremon Papa. Tapi sudah berubah Pa, sekarang sudah lebih wangi.

 

Pa….hari pertama Ayu ke Pakanbaru setelah Papa dikebumikan, Ayu diantar bang Nanda, tapi Bang Nanda langsung kembali ke bangkinang karena Mama masih di Bangkinang. Ayu sendirian di rumah kita Pa. semua tentang Papa menyeruak memenuhi otak dan hati Ayu. Semua masih pada tempatnya waktu itu. Bubur jagung yg terakhir Papa makan jam setengah 4 sore itu masih diatas meja dengan sendoknya. tempat tidur Papa masih ada bekas matras Papa. Tongkat papa masih tersandar di samping tempat tidur. Mangkok obat Papa pun masih ternganga disamping obat-obatnya , Pa. Semua masih seperti biasanya. Meldak tangis Ayu sendiri, berharap Papa keluar kamar dan tanya Ayu kenapa, tapi sampai nyeri tenggorokan AYu menahan air mata, Papa ndak datang. Malam itu dan beberapa amalam berkiutnya Ayu sendirian di rumah, dan sesekali ditemani Nia dan Nova. Masih sering Ayu menatap ke tempat tidur Papa, biasanya Papa terbaring disana dan kalau Ayu ketahuan sedang menatap Papa, biasanya Papa bangu dan nanya ada apa.

 

Atau seperti malam ini Ayu mengetik sampai larut malam, Papa akan bolak-balik di dpn kamar Ayu. hidupkan tivi, kemudian beberapa menit mematikannya lagi, masuk kamar. Lalu beberapa menit lagi Papa keluar kamar, lewat lagi di depan pintu kamar Ayu melirik sekilas, lalu ke dapur antah untuk apa krena hanya hitungan detik kemudian papa kembali lagi ke depan pintu kamar Ayu, memperbaiki gordein pintu kamar Ayu. Kalau Ayu tanya kenapa Papa belum tidur, kata Papa ndak bisa tidur. Lalu papa ke kamar. beberapa menit kemudian ke pintu kamar Ayu lagi, menutup sedikit pintu kamar dan nasehati Ayu untuk mulai berani tidur dengan pintu di tutp dan lampu dimatikan. Lalu papa akan meminta Ayu cepat tidur dan jangan telat bangun besok.

 

Tapi samapi selarut ini Papa ndak muncul di pintu kamar Ayu.

 

Pa… Ayu rindu Papa.

2 thoughts on “30 hari yang lalu, Pa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s