Seminggu yang Lalu

Papa…

 

Seminggu yang lalu, jam istirahat begini, Ayu memang sengaja pulang. Bersama Mama membantu Papa untuk duduk dari tempat tidur. Tubuh Papa sudah lemas, keras dan berat. Bahkan tatapan mata coklat Papa sudah mulai kosong. Tapi sesekali Papa masih menyahut dengan bergumam kalau ditanya atau mau sesuatu. Siang itu Papa sulit menelan air, apalagi obat. Tapi Ayu dan Mama membantu Papa meminum obat walaupun berkali-kali obatnya Papa muntahkan.

 

Papa…

Siang itu teman-teman kantor Ayu datang hujan-hujanan membesuk Papa. Papa masih menyahut saat teman-teman Ayu pamit pulang pada Papa yang terbaring lemah di tempat tidur.

 

Papa…

Setelah teman-teman Ayu pulang, Ayu langsung keluar menvcarikan Sop untuk Papa. Karena sejak pagi Papa cuam makan 3 suap bubur Ayam. Buburnya malah Ayu yang habiskan dan Papa tersenyum. Papa, menjelang Ashar itu Ayu keliling-keliling nyari Sop. Karena kalo untuk nunggu Mama masak dulu, Papa kelamaan nungunya. Lagian ga mungkin kami ke Pasar nyari bahan masakan dan niggalkan Papa sendiri di rumah.

 

 

Papa….

Menjelang Asahr itu entah kenapa hampir semua rumah makan kehabisan Sop. Ayu keliling-keliling dari Panam hingga Arifin Ahmad. Kemudian kembali lagi ke Panam. Hampir semua Rumah Makan dan Warung Makan Ayu singgahi, belum juga mendapatkan Sop untuk Papa. jadinya Ayu beli bubur untuk jaga-jaga kalo Sop nya masih ga dapat. Ayu beli 3 bubur: bubur Jagung, Bubur Kacang Ijo, dan Bubur Pulut Hitam. Dan Alhamdulillah  sampai di Nasi Kapau di Panam, akhirnya Ayu dapatkan Sop. Buru-buru Ayu pulang.

 

Papa…

Sore itu Papa makan bubur jagung. Sementara Ayu sholat Ashar, Mama yang suapkan Papa. Mama bilang, Papa makan 3 suap. Senangnya hati Ayu. Setelah itu Ayu pamit mau home-visite ke rumah pasien. Papa bilang: “Ya…”

 

Papa….

Menjelang Magrib itu hujan deras, Ayu terkurung hujan deras, dengan menggenggam kotak berisi Cumi Asam MAnis dan Sate. Ayu belikan untuk Papa. tapi tiba-tiba Mama sms: “Papa udah ga sadar.”

 

Papa…

Rasanya langit rumtuh seketika. Ayu ga peduli hujan lagi, Ayu buru-buru pulang. Banting semua yang Ayu pegang di depan pintu rumah kita dan lari ke kamar Papa. Menemukan Mama yg menahan tangis disamping Papa dan terus membisikkan ke Papa: ” La illahaillallahu… Muhammadarrasulullah…”

 

Papa…

Bergantian Ayu dan Mama membisikkan di telinga Papa. Sampai akhirnya Bang Anang dan Bang Nanda telpon dan minta Ayu menghubungi dokter sebelah rumah. Lari-lari Ayu ke rumah dokter. Dokternya juga lari-lari menuju rumah kta dengan membawa tabung oksigen. Dokter bilang kalo Papa harus segera dibawa ke RS. Dokternya telpon Ambulance. Ayu masukkan semua baju dan barang yang sekiranya perlu ke dalam koper.

 

Papa…

Wido, sepupu datang, bangtuin ngambil kasur dan ini-itu yang sekiranya perlu untuk selama papa di rawat di RS. Ambulance datang, Ayu dan Mama disamping Papa di dalam ambulance. Nafas Papa sudah melemah. Ayu takut, Pa! Bukan hanya langit yang runtuh, rasanya bumi pun terbelah!Papa…

sesampainya kita di IGD, ruangannya penuh sesak. ICU pun penuh. Perawat membantu Ayu menelpon 2 RS lainnya, tp ga ada jawaban, sepertinya juga penuh. Papa ditangani di IGD diantara peuh sesaknya pasien lainnya. Satu-satu ada yg meraung karena keluarganya meniggal.

 

Papa…

Mama berusaha tenang disamping Papa sambil tersu mengucapkan kalimat Syahadat. Mama sempat bertanya ke Ayu: “Ayu, kenapa kaki Papa dingin? padahal badannya panas?” Ayu bingung mau bilang apa Ma, tp Ayu bilang: “Karena AC tu Ma.” Makin lama kaki papa makin dingin, mulai terasa dingin sampai di betis. Mama bertanya lagi. dan untuk membuat Mama berhenti memeriksa kaki Papa, Ayu ambil selimut tambahan dan selimutkan kaki Papa, berharap kaki Papa hangat lagi.

 

Papa…

semua pasien satu persatu sudah ditangani, Papa pun sudah di tes darahnya di lab. kata dokternya mau di CT Scan dulu. Tapi harus pasang alat untuk bantu papa bernafas. Ayu mendatangani form pernyataan. rasanya tersayat-sayat di punggung tangan Ayu saat harus menandatnagi itu dan membaca semua pernyataannya bahwa Ayu menyetujui segala tindakan yg akan dilakukan untuk keselamatan jiwa Papa. Sakit Pa, sakit sekali menandatanagi itu. Lebih sakit lagi saat kami semua harus keluar ruangan karena Papa mau dipasangkan alat itu.

 

Papa…

alatnya ga berfungsi!!!! Mama sudah mulai lemas bertanya-tanya ke Ayu: “Kenapa alatnya ga berfungsi Yu? kenapa di dalam ruangan tu bunyinya seram? Papa diapakan?” Pa, Ayu cuma bisa tenangkan Mama: “Jalan nafas Papa sdg diberishkan Ma, insyaAllah Papa ndak apa-apa. Dokter udah janji lakukan yg terbaik semampunya.”

 

Papa…

Alatnya memang ga berfungsi! Papa dipasang ulang lagi alatnya! keadaan Papa makin lemas! Ayu lunglai Pa… lunglai selunglai lunglainya. Nafas papa sudah makin lemah, detak jantung pun lemah. Dokter keluar dan manggil salah satu keluarga yg boleh masuk. Ayu yg masuk Pa. Semua dokter dan perawat mengelilingi Papa. Dokter bilang: “Dek, Bapaknya dalam keadaan keritis, kami akan berusaha semampu kami, Adek bantu doa ya disamping Papa.” Rasanya Paaaaaaa…..seisi jagat raya ini hancur lebur berkeping-keping. Ayu bisikkan kalimat Syahadat di telinga Papa: “Pa, ikuti Ayu dalam hati Papa… La illahaillallah…Muhammadarrasulullah…” Ga putus Ayu bisikkan itu di telinga Papa. kemudian mama dibolehkan masuk, Ayu mendekatkan mama ke Papa. Mama yg lanjutkan kalimat Syahadat untuk papa ikuti dalam hati. Ayu peluk Mama dari belakang. Mata AYu ga henti memperhatikan apa yg dilakukan dokter dan perawat pada papa. Monitor jantung Papa udah bergaris lurus, rasanya AYu ga percaya! kemudian dokter menyenter mata Papa, pupil Papa ga bergerak! Dokter perintahkan ke dokter lainnya: “Pompa terus!” Dada papa dikejutkan untuk dipompa…. sampai akhirnya pompaan dari dokter itu melambat den mereka saling pandang. Lalu… dokter bilang: “Bu…maaf, kami sudah berusaha semamu kami, Bapak sudah meninggal Bu…”

 

Papaaaaaaaaaa!!!!!!!!!Rasanya seluruh planet menghujam ke jantung Ayu. Bertubi-tubi jatuh menusuk-nusuk ke hati Ayu! Mama menangis tanpa suara, hanya terkulai lemas dalam pelukan Ayu. Ayu setengah berteriak bisikkan ke telinga Mama: “Innalillahi wainnailaihi rojiun… Alhamdulillah… ga apa-apa Ma, Papa udah ga sakit lagi sekarang, Papa udah tenang.”

 

Papa…

Ayu antar Mama duduk selonjoran di lantai IGD. Ayu langsung telpon Bang Anang yg sdg di jalan ke Pekanbaru dari Pasir. Waktu Ayu kabari itu ke Bang Anang, Bang Anang hanya teriak histeris sekuat tenaga, ga bisa bicara papun lagi. Kak Rizca menelpon Bang Nanda di Natuna sana, entah apa reaksi Bang Nanda, Ayu ga tau.

 

Papa…

Air mata Ayu berlinangan saat ini mnegetik ini Pa. AYu benar-benar rindu Papa. rindu serindu-rindunya.

Ayu belum sanggup melanjutkan ketikan ini sekarang, Pa. Airmata memenuhi jilbab Ayu. Hari ini Ayu balek hari ke Bangkinang. Tetangga masih mendoa untuk Papa. Dan kami…tiada henti mendoakan Papa, insyaAllah.

 

——Image———————————————————————————————————————-

 

“Catatan ini saya publish ulang setelah beberapa jam yg lalu saya publish di catatan Facebook dan dalam hitungan setengah jam saja sudah banyak yg komentar, BBM, nelpon dan sms saya gara-gara catatan ini. Bahkan saya langsung di demo oleh Om-Tante-Bapak-Ibu-Kakak-Adik-Sepupu yang langsung bersimbah air mata ga sanggup baca ini sampai habis. Padahal ini belum sampai Papa dimakamkan lho!
Masih banyak yang hendak saya tulis tentang masa-masa ini yang insyaAllah membekas lama dalam memory saya.

 

Bahkan seorang sahabat langsung mewek menghubungi saya:

“Ayuuuuuu…maafkan aku! Aku bahkan merasa ga pantas untuk kau sebut sebagai Sisterhood yang selalu kau bangga-banggakan! Bahkan aku ga ada di saat terberat dalam hidup kau, bahkan untuk mengusap punggung kau aja waktu itu aku ga ada.” (*saya malah langsung ngakak kenceng beneeerrrrr, dan sibuk ngegodian dia sampe dia makin mewek… :p *)

 

Tidak apa-apa. Sudah bejibun yang mengucapkan itu ke saya. Walau bagaimanapun bagi saya, kalian semua tetap berarti bagi saya. Kalian orang-orang baik yang dikirmkan Allah untuk mendewasakan jiwa saya. Terimakasih untuk semua.