Selamat Tidur, Teman Tidur

Aku terbaring,  merebahkan setumpuk kepenatan.

Bukan karena lelah, hanya untuk merestorasi seluruh aku.

Saat-saat begini, terkadang aku suka membentuk posisi bintang, membayangkan aku bagai bintang, dengan kedua kaki dan tanganku terentang, menatap langit-langit kamar yang berkilauan oleh bintang-bintang asesoris glow in the dark yang ku tempelkan sendiri dengan melompat setinggi mungkin menyentuh langit-langit kamar.

Aku suka tersenyum.

Aku sedang menjadi bintang.

Bintang seharian ini karena sibuk sekali kesana kemari. Pergi pagi, pulang sudah larut malam.
Bukan hanya mengerjakan job di satu tempat, tapi berbagai tempat, kesana-kemari.

Besok mugkin juga begitu, jika Allah meridhoi maka aku masih akan terjaga dan tersadar untuk kesana-kemari lagi.

Aaaaaahhh…

Aku sedang menjadi bintang, lalu berubah jadi kupu-kupu, karena kemudian aku mengepak-ngepakkan tanganku bagai kupu-kupu.
Sebenarnya aku ingin merasa menjadi burung, tapi cukuplah jadi kupu-kupu saja dulu malam ini. 😀

Lalu ujung jari tengah kananku, jari yang paling panjang ini menyentuhnya….

Menyentuh teman tidurku. Dia… begitu halus, tenang, teduh, hangat….
Aku memiringkan tubuh ke kanan untuk  menatapnya.
Matanya hitam kelam dikelilingi lingkaran coklat terang.

Ku sentuh pipinya….

Ku tatap matanya….

Lalu aku menjawab sendiri, menjawab tanpa ada pertanyaan.
Mungkin lebih tepatnya menyatakan, karena memang tidak ada yang bertanya.

“Ya, seharian ini aku sibuk kesana-kemari. Karena aku takut berada di rumah, aku takut menunggunya di rumah. Aku takut jika dia tidak pulang, bahkan aku takut jika pun dia pulang tapi bukan pulang untukku.

ya, seharian ini aku sibuk kesana-kemari. Beraharap bertemu dengannya walau hanya harus berselisih jalan. Aku berharap dapat menemukannya dimanapun, dapat  melihatnya dengan realita mataku, bukan lagi dengan hatiku saja.

Ya, aku kurang tidur, aku takut terbangun setelah tidur, takut saat terbangun dan menyadari dia masih belum ada saat aku membuka mata. Atau bahkan aku belum melihatnya sesaat sbeelum aku menutup mata hendak tertidur. Aku ingin dia orang terakhir yang ku lihat saat memejamkan mata dan juga orang pertama yang ku lihat saat aku membuka mata.

Ya, aku takut. Aku takut menunggunya saja. Aku ingin menunggunya dalam mencarinya, aku mau mencarinya dalam menunggunya.

Bagaimana denganmu?”

Lalu dia tetap diam, bergeming.

Tidak apa-apa, dari dulu juga begitu. Aku memeluknya erat sekali, meski tidak ada balasan darinya. Bahkan jikapun aku menangis di bahunya, tangan bulatnya yang lembut tidak akan menghapus air mataku ataupun membelaiku, apalagi akan mengatakan bahwa segalanya kan baik-baik saja, mengatakan bahwa kita cukup kuat. Tidak…dia tidak bisa begitu. Dia tidak bia melakukan itu. Aku tau. Dan tidak apa-apa.

Lalu aku bertanya:

“Hey, coba katakan padaku, menurut hitunganmu, sudah berapa kali frekuensi ku mencuci sajadah minggu ini? Sajadah yang menjadi bukti banjir air mataku tentang keCintaanku padaNya tentang Dia. Oh, iyaaaa, besok jadwal kamu dimandikan, sudah lembab dan lusuh oleh air mataku kemarin malam. Xixxixixixi…”

Masih tidak ada jawaban.

Selamat tidur, Teman Tidur…..

2 thoughts on “Selamat Tidur, Teman Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s