Hanya Belajar Menggenggam Pasir

Banyak orang telah setuju mengenai makna menggengam pasir.

 

Yaaaaahhhh..

Jika kita terlalu kuat menggenggamnya, justru pasir itu akan keluar dari genggaman. Jika kita terlalu lembut menggenggamnya pasir akan jatuh. Atau bahkan kita tidak menggengam, tapi meletakkannnya di atas telapak tangan pun hanya sdikit pasir yang bertahan di telapak tangan.

 

Dan pada postingan kali ini sungguh saya tidak sedang menuliskan tutorial teknik menggenggam pasir dengan mudah, baik dan benar! Sungguh bukan itu! *pletaaaakkkkk! Disambit Angpao oleh penggemar* 😀

 

Kembali mengenai menggenggam Pasir tadi…

Meskipun sudah tau begitu, tetap saja kan kita suka mengenggam pasir?

Uuuummhhh…kalo emang masih mau menggengam pasir, tapi ga mau pasirnya berceceran keluar, saya sih cuma bisa nyaranin…. pasirnya dibasahi aja dulu, kalo udah agak lembab, genggam deh tuuuhhh… *sungguh tidak filosofis sekali yak? :p

 

Eniweii… baedeweiiii…

Yang jelas masing-masing kita pasti tau sendiri gimana cara menggenggam pasir di tangan masing-masing. Kekuatan kita pasti beda-beda, lhaaa..lebarnya telapak tangan kita juga beda-beda kan???

Sama kayak hati kitaaa…. *eeeeaaaaa… :”)

 

Jadi jika saya telah dengan tulus ikhlas makmur merata selamat sentosa menyerahkan hati saya untuk dijaga dan digenggam dengan baik. Ya jagalah dengan cara mu sendiri. Atau kalaupun mau dibuang, buang saja. Jangan dikembalikan ke saya. Karena mottonya: “Hanya memberi tak harap kembali” *iniii kok ya kayak lirik lagu Kasih Ibu ya? 😀

Etapiiii emang begitu lhoooo…

Jadi jangan dikembalikan ke saya. Tarok aja dimanapun kamu suka. Ato kalo udah ga suka banget nget nget nget, dibuang sayang…ealaaahhh maksudnya di buang saja.

 

Lalu biarkan Allah menuntun saya menemukan seseorang yang telah memungutnya dan menjaga nya tanpa saya tau. siapa tau aja tanpa sadar malah kamu sendiri yg memungutnya setelah perjalanan panjang… *ngareppppp…. :p

Dan nanti saat saya bertemu dengan nya, semoga saja ini memberikan arti untuk saling menghargai, memberi dan menerima dengan sepenuh hati setulus jiwa.

 

 

Jadi sekarang saya mau bermain dengan pasir dulu, sambil belajar bagaimana caranya menggenggam dengan lebih baik.

Karena hati saya pun telah digenggam dengan jauh lebih baik oleh yang MAHA KUASA.

 

Belajar Menggenggam Pasir

Masa-Masa Dimana Kita Tidak Bisa Kembali

Terjebak atau menjebakkan diri dalam foto-foto masa lalu ituuuuuu….

I.N.D.A.H

Wajarlah lirik sebuah lagu:

“Teralu pahit untuk dikenang, terlalu indah untuk dilupakan, kenanganku yang ku alami waktu bersamamu…”

Rasa-rasanya lirik lagu itu pernah saya nyayikan bersama  teman-teman di panggung perpisahan sekolah.  Saya nyaris lupa lirik lengkapnya, tapi bait bagian yang itu benar-benar melekat. Dan semakin terasa saat saya terjebak atau menjebakkan diri dalam foto-foto masa lalu seperti sekarang ini.

Bukan, bukan. Ini bukan foto-foto saya. Malah tidak ada saya sekali dalam foto-foto ini.

Juga bukan saya yang menjepretnya. Bahkan mungkin saya sama sekali tidak tau kapan foto ini diambil dan dimana lokasi pengabadiannya.

Saya hanya menikmati susasana yang diabadikan dalam foto-foto ini. Ini foto jaman sekolahnya seorang adik teman saya saya yang kini beranjak semakin dewasa, meninggalkan masa-masa ABeGe nya. Xixixixixi…

Saya ini kagum padanya. Dia mengundang saya dan minta saya untuk mendengarkan cerita nya. Saya menghargai pilihannya untuk bercerita hanya pada saya. Seru sekali.

Kini beliau telah menjejaki bangku kuliah. Jauh dari keluarga, sahabat, dan segala zona nyaman yang selama ini menghiasi hari-harinya.
Yeaaaahhh, bukankah suatu saat kita semua memang bakal meninggalkan zona nyaman kita? Beranjak menuju zona lain, kemudian merasa nyaman lagi, beranjak lagi. Jadi, dimanakah zona yang benar-benar nyaman itu? Mungkin jawabnya bahwa zona nyaman itu hanya ada pada masa lalu. Suatu saat masa depan pun akan menjadi masa lalu.

Jadi untuk apa kita terus mencari-cari zona nyaman untuk masa depan? Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin menjalani hari ini untuk bersiap beranjak menuju masa depan. Karena kelak hari ini akan menjadi masa lalu. Masa dimana kita tidak bisa kembali.

Lihatlah binar riang wajah-wajah mereka…

Di gerbang sekolah… di kelas… liburan sekolah… di rumah teman… kerja kelompok… gotong royong sekolah… ekskul sekolah… segala macam!
Mata-mata mereka masih cerah berbinar!

Penuh gelora semangat!
saya harap mata-mata itu tetap bersinar!

Saya rindu masa lalu!
Masa saya di sekolah…

Tapi hanya Rindu! Bukan ingin kembali!

Ada terlalu banyak hal yang membuat saya bersyukur untuk hari ini. Bahkan rasanya saya beryukur untuk apa yang terjadi esok. Karena saya telah menjalani masa-masa sebelum ini.
Masa-masa yang telah mengantarkan saya sampai pada hari ini. Sampai pada pemahaman yang masih sedikit ini.

Mungkin sajas semua tidak berjalan sebagaimana yang kita rencanakan.
Mungkin saja semua yang kita miliki saat ini adalah apa yang kita impikan tapi tidak sesuai impian selama ini.

Mungkin saja semua yang terjadi justru malah lebih indah dari impian.

Mungkin saja… banyak hal terjadi.

Tetaplah meningkatkan syukur.
Teruslah bertawakal.

Tingkatkan usaha.

Selebihnya serahkan pada Allah yang Maha Kuasa.

Karena Kuasa-Nya adalah pilihan yang terbaik untuk hambaNya.

Apapun yang terjadi, kecewa bukanlah jawaban!

Kecewa hanyalah salah satu nafsu yang dipelihara.

Bersedih boleh, jangan lama-lama.

Kecewa juga segeralah ditepis.

Ada masa-masa dimana kita tidak bisa kembali. Ingatlah selalu itu untuk menjalani hari ini demi menjemput masa depan.

Ada masa depan yang menunggu kita.

Ada pertemuan kita dengan Dia yang Maha Mengetahui segalanya.

Percayakan saja padaNya!

“Dik… kakak bukan orang yang baik, hanya berusaha menjadi lebih baik. Kehidupan kakak juga tidak selamanya tampak menyenangkan, juga ada masa-masa dimana rasanya tidak berjalan seperti maunya kakak. Ada juga kalanya kakak harus melepaskan keinginan kakak. Ada saaatnya juga kakak menangis sampai rasanya tidak sadarkan diri. Juga ada saatnya kakak memang bahagia luar biasa seperti apa yang tampak. Semua hanya mengaharapkan ridho dan berkah-Nya saja. Kakak bukan orang baik yang hidupnya tenang dan bahagia. Kakak adalah hambaNya yang menjalani kehidupan dunia yang singkat ini untuk pertemuan dengan Nya. C*nta pun juga pernah bertepuk sebelah tangan, C*nta pun pernah diabaikan, C*nta pun pernah menyedihkan, C*nta pun pernah membahagiakan, C*nta pun pernah bergelora. DAN CINTA-NYA PASTI LUAR BIASA dari semua itu. “

Jika Tidak Disini, Mungkin Disana

Mereka bertanya-tanya,

Mengapa saya segitu hebohnya menyambut Perahu Kertas the Movie?

Bukankah semua pertanyaan punya jawaban?

Bagaimana jika ini tidak ada jawaban, demi sebuah alasan.

Yaeaaah…benar. Alasan selalu bisa dicari untuk sebuah jawaban. Bagaimana jika alasan tidak menjawab adalah jawaban itu sendiri?

ENTAHLAH!

*ribet bener yak? :p

Baedewei…

Saya benar-benar antusias menyambut Perahu Kertas the Movie. Alasannya apa? Kan tadi saya sudah bilang, alasannya ya tidak ada jawaban! Hewhewhewhew… 😀

Yang jelas saya suka novelnya, itu saja.

Kenapa saya suka? Lagi-lagi alasannya ya tidak ada jawaban! Hanya suka saja.

Oke, baiklah!

Saya cerita!

Karena Perahu Kertas itu adalah Perahu Kertas! Perahu Kertas bagi saya sendiri! Saya yang punya versi Perahu Kertas saya sendiri!

Dari seorang sahabat kecil, beliau yang meminta saya membaca Perahu Kertas, kira-kira sekitar tahun 2009 saat saya tengah pusing-pusingnya mengumpulkan referensi untuk T.A perkuliahan saya.

Saya nyaris kehilangan imajinasi saya yang katanya membuncah-buncah tidak karuan. Dia, entahlah. Saya selalu mengatakannya sebagai fans berat saya. Dia suka sekali membaca atau sekedar mendengarkan imajinasi saya yang liar. Dia bisa tenggelam dan larut sejauh-juahnya dalam imajinasi saya yang saya beberkan padanya.

Kadang di tengah jalan, apapun yang dia lihat, dia pasti ceritakan ke saya. Atau meminta saya juga melihat ke arah sana. Lalu menunggu reaksi saya, menunggu imajinasi saya keluar begitu saja. Dia dengan tekun menunggui saya yang menggila dengan imajinasi saya, mendepak dia sejauh-jauhnya dari dunia saya. Dia hanya melihat dari luaran dunia saya, saya yang tengah sibuk dengan dunia imajinasi saya, menulis atau mengoceh seperti meracau.

Bahkan jika pun itu yang kami lihat hanya kejadian saat seseorang yang tengah haus  di pinggir jalan, lalu membeli sebotol ait mineral, lalu membuang botolnya ke dalam tong sampah. Sekejap saja dia akan terdepak keluar dari pandangan realita. Dia hanya akan terlempar sejauh mungkin dari kelebatan imajinasi milik saya yang seketika liar ingin menulis atau pun mengoceh meracau lagi. Menciptakan sebuah kisah atau cerita dari adegan yang kita lihat itu.

Lalu dia dengan sabar menungui saya kembali ke dunia dimana  bisa bersama saya lagi.Dan disana saya dapat dengan nyata melihat ke dalam matanya. Melihat reaksinya atas imajinasi saya yang baru saja terjadi. Dia tertawa, kadang malah tersenyum, dan kadang terlihat berduka.

Dia hanya tidak kecewa…

Saya waktu itu menolak untuk membaca novel Perahu Kertas. Meskipun saya suka karya-karya sang penulis novel itu. Bahkan saya menempatkan kumpulan cerpen sang penulisnya yang berjudul “Filosofi Kopi” sebagai imajinasi kedai kopi milik kita! Hahahaha… 😀

Saya hanya tau saja bahwa dia masih bisa menemukan imajinasi saya dimana-mana. Saya percaya dia masih bisa melihat imajinasi saya. Meskipun entahlah dia tau bahwa pada waktu itu akhirnya saya memang membaca Perahu Kertas.

Kini, Perahu Kertas sudah dalam bentuk versi Film.
Saya ingin segera menontonnya.

Dan membiarkan perahu Kertas versi saya sendiri terjaga selamanya dalam imajinasi saya. Tentang Perahu Kertas saya sendiri.

Perahu Kertas versi saya sendiri

 

Hari ini, bertahun-tahun setelah hari itu. Hari ini hari pertama Perahu Kertas diputar di Bioskop. Saya akan menontonnya, bukan di hari yang pertama. Entah di hari yang keberapa, saya haya kan menonton, InsyaAllah.

Tiba-tiba dia datang hanya untuk memberi tanda bahwa dia tau Perahu Kertas telah di Filmkan.  Lalu katakan:

“Aku hanya menunggu layang-layang yang selalu kamu gambarkan di tanah itu akan terbang tinggi ke langit yang sebenarnya.”

Ah…ya…layang-layang!

Itulah Perahu Kertas versi saya sendiri!

Sejak sebelum masa Taman Kanak-Kanak bersamanya, hampir semua orang heran melihat saya saat membuat lukisan di atas tanah, selalu menyelipkan gambar layang-layang kecil di sudutnya. Layang-layang di tanah tapi berlatar LangitBiru, Pelangi, Matahari, Bintang, Bulan, dan Balon.

Layang-layang yang terbang di tanah.

Saya hanya berharap dia hanya tetap di tempatnya. Saya pun tetap di tempat ini. Untuk sebuah alasan yang tidak ada jawabannya.

Saya besyukur bahwa dia tidak bertanya bagaimana saya menjalani semua ini. Tidak bertanya apakah saya hidup dengan baik. Tidak bertanya apakah senyum saya masih seperti kembang api dulu. Buat semua menjadi terasa lebih mudah. Tetaplah menjadi sahabat kecil yang selalu menatap imajinasi saya, menunggui saya hingga muncul pada realita.

Terimakasih untuk segala kepercayaan penuh pada saya untuk mengembangkan diri sendiri. Memberikan saya kesempatan berdiri sendiri dengan kemampuan saya, memaksa saya untuk lebih peduli pada apa yang saya cari untuk saya sendiri. Terimakasih untuk peduli pada kebahagiaan saya meski itu membuat kamu terdepak jauh dari saya.

Maaf untuk mendepak mu tidak hanya diimajinasi tapi juga realita untuk sebuah alasan yang tidak ada jawabannya.

Jika merasa tidak menemukannya, itu hanya karena matamu belum kau buka untuk melihatnya. Hatimu belum kau biarkan terbuka untuk merasakannya.

Seseorang dari masing-masing kita telah terlahir di suatu hari untuk tumbuh dan berkembang melalui proses panjang kehidupan yang sementara ini untuk nantinya saling mendampingi tak hanya di dunia, tapi hingga di akhirat nanti.

Kita hanya akan bertemu lagi, jika tidak disini, mungkin disana.

Banner Jualannya Nia ada di Side Bar Blog saya! Ayo mampir dan pesan!!! (*kalo ga saya ditabok sama Nia*)

Hookeeehhh baiklah…

Saya menuliskan postingan kali ini dengan tingkat kemalasan yg luar biasa!
Gimana gak coba? Ituuuuuu temen saya yg kecil kayak “Anak Ayam” si Nia Rama maksa supaya saya pasang Banner jualannya di sidebar Blog saya.

Ayyyeeaaahhh sebagai sahabat yang pura-pura baik, ya saya ikutin aja. Daripada saya mesti liatin wajah “Pliiiissss” dengan emotikon anak ayam yg memohon-mohon dengan mata berbinar begitu, membuat hati saya luluh lantak bagai diserempet buldoser! Ga tegaaaaaa….

Lagian ga ada ruginya juga sih saya pajang banner nya di blog saya, ya kalo kemudian pembelinya banyak, ujung2 nya kan saya juga yg ditraktir makan! Ahahahahaha… *ketawa licik*

Baedeweeeeiiii….

Kepada Nia Rama – Saudari terbaikyg Tuhan kirim pada saya,
I always believe that all the problems had happened, always there are the solutions and something will make you more than before! More Smart, More Beautifull, Stronger, Richer… ahahahaahha… Allah always knows how strong you are, dahling… 🙂

Asal kaw tau, meski mungkin aku hanya menemani kaw disaat susah ataupun senang, aku akan selalu ingin bisa membantu kaw lebih banyak dan lebih baik.

Dengarkan lagu Andien ini, dan kaw akan mengerti…. *sori video klipnya ga ketemu, jadi nikmati aja ini, awas kalo gak!!!! Aku jitak-jitak sampe benjol seluruh badan!*)

From your Idol….. Ayaw Jeweltz