Untittled *bener-bener Untittled karena sangat GaJeBo!

Triiiiiinggg….!!!!!

Muwehewehewhewhew…!
Disempat-sempatkan ya menulis diantara keriuh-rendahan ini!

InsyaAllah, it will be the journey!
Ga berani bilang yang “pertama”, tar dikatain NORAK!

Tapiiii…sebenernya emang pertama kali siiih…

Ayeeaaah dari sekian banyak yg besok akan “ditetaskan”, mungkin sayalah yang satu-satunya mengalami perjalanan pertama kali, jadi wajar donk ya kalo agak eksaitit berlebihan dan LEBAAAAAAAYYYY! *ga aneh lagi!

Aaaaa…cemana nii??? Cemana niiii?????

Emang agak NORAK sih untuk memikirkan tar pake koper yang mana? Cukup ga segitu? Tar disana gimana ya?

EEEEEEniweiiiiii… terimakasih untuk Keluarga Besar saya serta sahabat-sahabat saya yang sudah cukup tabah dan sabar menghadapi saya.

Saya ga keras kepala lhooooooo!

Terkadang saya hanya merasa sedikit perlu untuk “Kareh Kapalo” sekedar untuk tertawa ngakak diujungnya.

Tapi..

Sejujurnya ga perlu juga saya kasih tau kalo sebenarnya saya malah nangis diam-diam.

*Ealaaaaah, katanya ga mau kasih tau, tapi diomongin jugaaaa! Jitak cieeek!

Bagaimana bisa saya ga nangis coba?

Dari awal saya tau sudah begitu banyak yang menyamangati saya untuk tetap berusaha seoptimal mungkin, bahwa Allah tetap melihat usaha saya.

Terlalu bnayak pengertian, perhatian, dan kasih sayang yang tercurah pada saya yang sering egois ini.

Memahami obsesi-obsesi saya, membangkitkan api impian saya tanpa pernah menghentikannya.

Ituuuuu luaaaaarrrr biasa!
Dan disinilah saya, bersiap berangkat untuk impian saya. Meski tidak persis sama dengan yang saya impikan. Ini hanya LUAR BIASA!

Walo sebenarnya sediiiiiiihhh karena berangkat sendiri!

Nanti saat saya berjalan ke depan. seluruh jiwa dari mereka yang pernah menyanagi saya, masih menyayangi saya, dan bahkan yang belum menyayangi saya, semua jiwa-jiwa itu akan saya dekap dengan nyaman, akan saya bawa untuk berjalan bersama saya.

“Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini, bukan karena kuat dan hebatku. Semua karena C*nta… Terimakasih C*nta…”

Boooooo..ngetik lirik lagu begitu serasa Joy lagi dinobatkan jadi Indonesian Idol deh!

Tapi itu beneran lho dari palung hati yang paling dalam, bahwa tanpa C*nta yg dikembangkan Allah di dalam hati mereka semua untuk saya, saya tidak akan bisa sampai seperti ini.

Sampai di tempat yang saya belum pernah sampai.

“Sampai ditempat yang saya belum pernah sampai????” INTINYA BELOM SAMPAIIII KALEEEEE!

WAT EPERRRRRRR!!!!
Lupakan emoticon kodok yg ngakak barusan!

OKE!!! Baiklah, saat saya mengetik ini, saya emang belom sampai! But I will!!! Very soon! InsyaAllah!

Masih ga percayaaaaa????
Noooooohh liaaaaattt noooooohhh koper saya!!!! *marah sama emoticon kodok*

Udah ah, lama-lama saya makin ga jelas mau nulis apa!

See You there!

——————————————————————————————————————————————

Ayeyeyeyeyeyeyey!!!! M**********N I’m coming!!!!
Jeng…jenggggg….!!
Bismillah! Berangkat!

Berinvestasi denganmu?!

Image

Entah berasal mula dari mana sampai saya harus berurusan berinvestasi (sebut sajalah ini “investasi”) dengan cara khusus seperti ini. Sebenarnya sih keputusannya terserah saya, mau atau tidak. Sesimpel itu saja. Masalahnya terkadang saya kelewat ingin mendengarkan penjelasannya dulu.

Yap, dan begitulah disiang hari itu. Di tengah jam-jam bolos kerja saya *semoga si Boss ga baca ini*
Berulang kali sang “perantara” bertanya: “Benar, mba sedang tidak buru-buru?”

Kalo ditanya begitu sih sebenarnya saya sangat buru-buru! Tapiiiii…yeaaaahhh terkadang saya penasaran dengan pertanyaan seperti itu.

“Gak, saya sedang ga buru-buru. Ada apa ya?”

“Baiklah, terimakasih atas waktunya. Silahkan Mba menuju meja disebelah sana, Bapak disana mau menjelaskan sesuatu pada Mba.”

Saya melirik ke arah meja ke arah tangan si Mba Cantik mengarah.

“Kenapa saya harus kesana? Kenapa ga Mba aja yg jelaskan ke saya?”

“Ehem…maaf Mba. Bapak disana yg mau menjelaskan sesuatu pada Mba.”

APAAAAAAAA coba maksudnya??!! Huuuuhh, ya sudahlah. Saya pun berjalan juga ke meja sana. Si Bapak yg disana masih sibuk dengan Screen dihadapannya. Nah lho? Bukannya tadi katanya pengen jelaskan sesuatu ke saya?

Saya pun menoleh ke arah Mba Cantik tadi yg masih memperhatikan saya dari meja di ruangan kaca sana. Dengan isyarat tubuh, saya bertanya: “YANG MANA ORANGNYA?”

Si Mba Cantik menunjuk ke Bapak yg masih sibuk dengan screen nya. Saya menoleh ke si Bapak, masih sibuk aja. Okeeee…ini udah menyita waktu saya selama 2 menit. What next????!!!!

Tiba-tiba si Mba Cantik keluar ruangannya dan sedikit berteriak pada si Bapak dengan menyebut nama si Bapak. Si Bapak menoleh, dan menyadari ada saya yg berdiri di hadapannya.

“Oooohhh, sudah datang, maaf. Silahkan duduk. Perkenalkan saya….”

“Oh, OK! Kata Mba yg disitu, Bapak mau menjelaskan sesuatu pada saya, apa ya?” Saya memang terkadang kurang tanggap dalam berbasa-basi apalgi kalau tidak mengerti maksudnya apa.

Kemudian beliau menjelaskan banyak hal, diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan spontan saya yang entah kenapa kadang membuat beliau terlihat eksaitit dan sesekali tertawa. APANYA YANG LUCU??!! Sesekali beliau mengetik sesuatu.

“Baiklah, berikut sudah selesai, silahkan di cek Mba…” Beliau menyodorkan sebuah hasil print out yg saya ga ngerti apa.

Disitu tertera nama saya dengan tulisan: Dirancang khusus untuk “Ms” Ayaw, ada usia saya, ada status saya. Dibawahnya ada nama beliau, kode beliau, jabatan beliau.

Kemudian kepala saya terangkat dan tepat menatap pada matanya! “INI APA?”

Well, panjang sekali penjelasan beliau. Saya lebih konsentrasi dengan penjelasan beliau. Sementara beliau lebih konsentrasi pada jawaban-jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan beliau yg terselip diantara penjelasan. Beliau mencatat beberapa hal pribadi saya di luar konteks pembicaraan.

Mungkin beliau segera peka bahwa saya mulai tidak nyaman dengan pertanyaan pribadi mengenai saya. Ngapain juga pake nanya saya kerja dari jam berap sampe jam berapa? Ngapain juga nanya “lho??? jam segini kok sudah pulang? Suka kabur ya?”

“Baiklah, mohon maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya. Tapi, jujur…saya pernah liat Mba sebelumnya.”

“Oh ya.” Dengan ekspresi datar.

“Tadi Mba bilang tinggal di Bangkinang? Tapi sekarang menetap di Pekanbaru? Dan sebentar lagi akan berangkat? Boleh saya tau kemana? Dan kenapa? Biar saya tau untuk lebih berusaha menyusul. Dulu saya sempat di Bangkinang, tapi Mba sudah tidak ada.”

Nguuuuuiiiingggg… tiba-tiba hening. “Maaf, saya ga tau Bapak ini siapa ya?”

“Ga penting siapa saya. Jadi Mba waktu itu Mba menerima menjadi Dosen di tempat Mba kuliah? pasti kampus sudah punya pertimbangan sendiri tentang Mba. Ga heran sih. Mba memang smart dan cerdas dari dulu.”

“OKE, jadi kembali mengenai rancangan ini, bagaimana bisa begini?”

“Itu sesuai impian Mba kan? Semua sudah ada disitu. Melaksanakan Haji? Membangun “Rumah”? Mempunyai kendaraan? Mempunyai tabungan jangka panjang untuk kesehatan keluarga bahkan untuk anak-anak nanti? Jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia?”

“Hmmmm…terimakasih. Itu memang tugas Bapak untuk meyakinkan saya. Prosedurnya kan emang utnuk meyakinkan saya.”

“Huwahahahahaha, Mba ini bisa aja. Jadi bagaimana Mba?”

“Apanya?”

“Akankah Mba bergabung?”

“Saya mesti tanyakan kepada orangtua saya dulu. I will, but I can’t give you “the promise”. Teruslah berjalan.”

“Saya tunggu jawaban Mba. Terimakasih sudah sabar mendengarkan saya. saya percaya Mba sangat sabar.”

“Terimakasih untuk penjelasannya.”

“Sebentar Mba, ada yang ingin saya tanyakan….”

“Ya?”

Beliau menyodorkan sebuah kertas yang dari tadi ditulisnya dengan spidol biru. Semua berisi data lengkap saya, hanya point umum, karena saya tidak memberitahu banyak hal.

“Saya belum tanya nomor Mba yang bisa dihubungi.”

Ini yang membuat saya sedikit berpikir keras. Kadang saya suka pelit kasih tau nomor yang bisa dihubungi, saya lebih suka, sayalah yang menyimpan nomor orang.

“Ummm…di berkas ini sudah ada nomor Bapak kan? Jadi nanti kalo ada yang ingin saya tanyakan, biar saya yang hubungi.”

“Dan saya rasa tidak akan, mengingat kesibukan Mba yang padat. Biar saya saja yang menghubungi.”

AAArrrrrrgghhhhh!!!!! Baiklah, saya pun akhirnya beritahu nomor saya.

———————————————————————————————————————————————————–

Dan pagi ini, di coffee morning saya, panggilan masuk pun tiba.
Dan kenapa juga saya mesti tau itu dari siapaaaaaa?????!!!! Aaaaaaargggggkkkk!!!! Itu karena nomornya mirip sih sama nomor saya, cuma beda 2 angka!

“Kenapa tidak bisa?”

“Karena untuk 6 tahun ke depan, saya tidak bisa untuk tidak.”

“Tapi tidak harus angka itu Mba. Kita bisa usahakan sama-sama.”

“Terimakasih. Semua ini tetap akan saya pertimbangkan, tapi jawaban saya detik ini: Saya ga janji! Saya lebih berminat untuk menginvastasikan perasaan saya.”

Dan Beliau pun tertawa renyah sekali. Kadang saya heran sendiri, saya berbicara serius, tapi selalu lucu baginya. Entahlah!

I just wanna tell you that…

Saya percaya bahwa Allah tau impian saya dan melihat usaha saya. Biarlah Allah yg mengarahkan saya.

Saya percaya bahwa setiap kita adalah jawaban dari doa yang lainnya.

Saya adalah jawaban dari doa seseorang yang meminta saya pada Tuhan-nya.
Sama seperti saya yang juga telah dan masih meminta seseorang dalam doa saya pada Tuhan.

Untuk bersama-sama saling berusaha meraih impian.

———————————————————————————————————————————————————–

Image

Pernyataan penutupmu kali ini: “Kalau untuk memberikan terapi utnuk orang stroke bisa bertahun-tahun dan kamu jalani dengan enjoy. Kamu sangat sabar, pasti bisa jalani ini. penerimaan diri itu yang membuatku berusaha menyusulmu.”

 

Kenapa Dandellion?

 

 

 

Ku sebut kamu…. bagai Dandellion.

Dandellion itu bagai kamu.

 

 

“Randa Tapak atau Dandelion adalah bagian dari Taraxacum, sebuah genus besar dalam keluarga Asteraceae. Nama Randa Tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki “bunga” yang memiliki “bunga-bunga” kecil yang terbang ditiup angin. Asal asli dari tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia, namun sudah menyebar ke segala tempat. Yang disebut sebagai bunga dari tumbuhan ini menjadi semacam jam hayati yang secara teratur melepaskan banyak bijinya. Biji-biji ini sesungguhnya adalah buahnya.”

Yap…!

“Bunga” yang memiliki “bunga-bunga”, secara teratur merelakan bijinya dipinang sang angin untuk tertiup dan menyebar entah jatuh dimana. Untuk terus bertumbuh dan berkembang, menjadi “bunga” yang memiliki “bunga-bunga”.

Dandellion…Putih, tenang, lembut… begitulah di mataku.Merelakan dirinya melepas serbuk-serbuk keindahannya meski dia tau akan tetap indah jika tak satupun pergi. Namun ternyata begitulah Dandellion, tidak peduli akan indah ataupun tidak, ia hanya rela melepaskan bunga-bunganya pergi, melepas perpisahan dalam kerinduan.

Aku hanya tau, Dandellion akan tetap khidmat dalam menikmati kerinduannya.

Hingga kebutuhan untuk berpisah itu usai sudah.

Aku hanya menyimpan harapan imajinatif untuk menemukan padang Dandellion bersamamu, untuk menyaksikan keikhlasan Dandellion menerima pinangan angin yang membawanya pergi untuk melanjutkan fase kehidupan.

Sebuah tulisan sebelum keberangkatan….