Hanya Secuil Saja… #Part 2 (Very Long Story, and I am still Trying…) *silahkan di print kalo postingan ini terlalu panjang… ;p

Inilah kelanjutan dari postingan saya yang sebelumnya…

Kelanjutan dari  semua itu…

Awalnya sulit bagi saya meringkas semuanya menjadi sangat ringkas, sementara semua itu terdiri dari halaman-halaman panjang berbuku-buku Diary saya yang belum usai… saya mencatat setiap moment… saya mencatat langsung saat saya merasakan sesuatu, hingga saya masih bias merasakan setiap degup dan emosi yang menalir di dalam huruf-huruf saya…

Disini saya hanya mencoba menyingkat semuanya hingga pada point dimana saya berada pada koma tertentu untuk sekedar TERistirahat dalam keterkejutan, dan kesadaran…

Masih di akhir Maret 2010

Sejak dia mengatakan kalimat yang sakral bagi saya, saya merasa menemukan arah saya. Saya semakin tau kemana saya akan melangkah. Walaupun saya tidak tau kemana langkah itu akan diarahkan Nya, tapi saya tau bahwa saya akan mulai melangkah ke suatu yang baru. Yang bahkan belum pernah terfikirkan oleh saya. Saya tidak tau mengadu pada siapa seharusnya. Saya hanya mengadu pada Nya saja. Meminta untuk selalu dalam petunjuk, ridho, berkah dan lindunganNya.

Kemudian saya pikir, perjalanan tidak akan dimulai tanpa kita mulai melangkah. Jadi saya pun memutuskan untuk menyampaikan ini pada Mama. Mama harus tau. Lama bagi saya menanti saat yang tepat untuk menyampaikan ini. Meski diam-diam dalam hati saya, ada baiknya dialah yang akan menyampaikan ini pada orang tua saya. Tapi saya cukup paham bahwa semuanya dimulai dari saya dulu untuk menyampaikan pada keluarga saya.

Saya menunggu waktu yang tepat dalam debar-debar tidak menentu. Hingga disuatu malam, saya memberanikan diri untuk akhirnya menyampaikan ini. Saat berdua saja dengan mama, di kamar… mama sedang berbaring di tempat tidur, sedangakan saya tidak cukup berani untuk menatap mama. Saya memilih berbaling di lantai di dalam selimut kapas berwarna ungu dengan corak bunga-bunga merekah.

“uuuuummmm…ma, Ayu mau mengatakan sesuatu boleh?”

“Boleh, apaan tu?”

Bismillahirrahmanirrahiim…

Dan mangalirlah semua cerita itu… pengakuan saya tentang kedekatan saya dengan seseorang. Ini pertama kali dalam hidup saya berbicara seperti ini dan tentang seserius ini dengan mama. Tentang para lelaki yang datang dan pergi, saya tidak pernah ambil peduli, bahkan kalopun mama mengetahui, saya akan malas-malasan untuk menceritakannya, karena saya memang tidak memikirkan semua itu. Saya belum pernah berada dalam sebuah relationship sedekat ihni dengan laki-laki, kedekatan saya dengan laki-laki hanya sebetas belajar, berorganisasi, membahas suatu tema, dan seksedar teman bercanda atau ngobrol saja. Tapi tidak untuk kali ini. Mama cukup terkejut, sampai terduduk di tempat tidur, mungkin mama belum mengira bahwa hal seperti ini akan keluar dari mulut gadis kecilnya yang selama ini hanya bermain, tertawa, benar-benar seperti anak kecil. Dan memang saya adalah gadis kecil keluarga kita.

Mama meminta saya membuka selimut agar dapat melihat saya, saya tidak mau. Saya tidak sanggup melihat mama. Saya terharu, saya malu, saya bingung, saya bahagia, jadi saya tidak tau harus bagaimana. Mama cukup mengerti mengapa saya tidak sanggup menatap mama, jadi kami hanya berbicara dari balik sselimut, sesekali saya mengintip dari selimut, lalu cengengesan. Mama pun tertawa-tawa. Mama banyak bertanya ini-itu, tentang sejak kapan saya mengenalnya, bagaimana bisa mama tidak tau?! Dimana bertemunya, bagaimana bisa mama tidak tau?! Bagaimana saya berkomuniklasi dengannya, bagaimana bisa mama tidak tau! Seperti apa perasaan saya padanya, bagaimana mama bisa tidak tau!

Saya ingin menangis saja! Ya… seumur hidup saya, hanya mama tempat saya membagi hampir semuanya. Mama tau saya tanpa saya harus cerita. Tapi mungkin karena saya tidak pernah bercerita atau terdengar kabar sedang “dekat” dengan laki-laki manapun, mama belum mengira bahwa saya akhirnya menceritakan semua itu pada saat itu. Saya mengintip mama dari dalam selimut, sulit bagi saya mengartikan ekspresi mama, yang jelas bukan ekspresi kecewa, itu saja bagi saya sudah cukup. Mama banyak memberikan saya nasehat, bahwa saya harusnya terbuka tentang ini dari dulu pada mama, tidak memendamnya sendiri selama itu. Saya minta maaf, mama bilang tidak harus minta maaf, karena kadang untuk hal-hal tertentu kita butuh waktu untuk mengungkapkan atau menyimpannya.

Saya sampaikan pada mama tentang “kalimat sakral itu”, mama lebih terkejut lagi! Mungkin mama belum mengira bahwa saya mengatakan itu pada saat itu. Mama tidak marah, tidak kecewa, tapi tersenyum. Mama bertanya lagi pada saya, banyak sekali pertanyaan. Mama bertanya banyak sekali tentang dia, seberapa jauh saya mengenali dia. Yang saya tau hanya sejauh yang saya tau. Mama mengatakan yang terpenting adalah saya yakin, saya bahagia. Bahwa nantinya saya yang sekarang tidak akan sama lagi, saya akan berganti “pemimpin”, berarti mama, papa, abang-abang saya juga yakin bahwa nantinya saya berada dalam “kepemimpinan” yang menuju jalan yang diridhoi Nya.

Saya paham maksud mama, itu juga yang saya mau. Itulah alasan mengapa saya begini. Meskipun saya terlihat aneh bagi orang lain, saya tidak peduli. Saya tidak tertarik untuk turut serta dalam gejolak masa muda. Saya tau akan tiba masa nya bagi saya, tanpa saya harus coba-coba. Saya hanya ingin sekali saja. Untuk itu tidaklah mudah bagi saya mempercayakan semua ini pada seseorang. Dan saya tidak mau main-main untuk hal ini walaupun sekilas seolah saya hanya main-main dan santai saja. Sebenarnya saya hanya memeperbaiki diri saya menjadi hambaNya yang lebih baik. Karena hanya Dia lah yang Maha Mengatahui dan Maha Adil. Sehingga jika saya ingin yang baik, harusnya saya memperbaiki diri dan mempersiapkan diri saya sendiri dulu.

Saya katakan padanya bahwa saya telah menyampaikan ini pada mama saya. Entah kenapa saya merasa lebih lega. Ingatkah dia tentang ini? Hhhhhhmhhh…saya tidak tau untuk saat ini.

Awal April 2010…

Saya masih menerima inbox dari dia-nya. Saya tidak membalas lagi, karena saya tidak inigin semakin membuatnya terluka karena saya. Apakah saya bersalah atas semua ini?

Bukankah saya pernah menjauh dari semua ini, menghindar, memilih untuk pergi. Saya sempat tidak mau tau lagi. Ini hubungan mereka, saya tidak ada didalamnya. Tapi kenapa saya selalu dikaitkan oleh dia-nya. Padahal saya sudah jelaskan sebelumnya bahwa saya tidak ada diantara mereka. TIDAK ADA!

Saya pun sempat menjauh, tapi dia bilang pada saya: “orang setelahnya tidak boleh menggangu hubungan dengan orang sebelumnya…” tau kah dia itu membuat saya menyimpan harapan saya yang semakin berlebih, menelan bulat-bulat semua harapan saya sendirian. Ingatkah dia dengan yang dikatakannya ini? Saya berusaha memperbaiki hubungna mereka. Meminta dia-nya untuk percaya pada dia. Meminta Dia untuk kembali menghubungi dia-nya. Memohon mereka untuk saling berbicara dan mendengarkan agar mereka bisa kembali menjadi lebih baik. Adakah saat itu orang peduli apa yang saya rasa? Bahkan saya sendiri mengabaikan peraaan saya sendiri. Saya menemukan kalimat ini dalam Diary saya pada awal April: “saya hanya ingin dia bahagia, saya mohon ya Allah… beri kan saya kekuatan untuk menjalani semua ini….berikan dia dan mereka semua kebahagian, itu sudah cukup bagi saya….”

Allah memang sayang saya, meski saya masih sering jauh dariNya. Saya diberi kekuatan untuk selalu tertawa dan bahagia menjalani hari-hari saya. Saya simpan semuanya sendirian disini.

Dan ternyata dengan tegas dia katakana bahwa TIDAK! Saya pun paham dan diam. Saya pun mulai mengurangi menyalahkan diri sendiri. Dan membiarkan semua perasaan ini tumbuh dan berkembang dengan sendirinya di dalam hati saya. Bismillahhirrahmanirrahiim…. Saya bahagia…

Saya pun mulai memberanikan diri untuk menceritakan ini semua pada abang sulung saya. Tanggapan cukup baik. Sama dengan mama, abang saya hanya inigin saya bahagia. Abang saya juga banyak memberikan saya pertanyaan, pandangan, dan nasehat. Abang saya cukup paham tentang adik kecilnya ini. Saya memang orang yang bimbangan, tapi sekali saja saya yakin…sulit bagi saya tergoyahkan. Saya memang bukan orang yang vokal menyuarakan pilihan dan keteguhan saya, palingan saya hanya diam, dan dalam diam tetap teguh pada prinsip dan pilihan saya. Abang saya paham betul itu, sehingga memberikan nasehat dan pandangan dengan caranya sendiri itu memberikan saya kekuatan tambahan dalam menentukan pilihan saya.

Pertengahan April 2010….

Suatu sore, mama mengajak saya keluar, sekedar berkeliling, sambil berbelanja bulanan. Saat kami lelah dan beristirahat di sebuah kursi panjang, mama memulai pertanyaan tentang dia lagi. Saya tersenyum, dan menjawab apa yang saya tau. Lalu untuk pertama kalinya mama inigin tau orangnya. Saya ingin sekali saat itu mem-Video call nya. Tapi saya menahan diri. Saya hanya memperkenalkan mama pada fotonya melalui Facebook nya. Mama tersenyum, saya segera menurunkan ponsel saya, tersipu-sipu dalam suasana itu. Mama mengambil ponsel saya dan sekali lagi melihatnya, saya ambil lagi sehingga kami saling rebutan dan tertawa terpingkal-pingkal. Entah kenapa dalam hati saya hangat dan haru sekali. Apakah saya sudah sampai pada masa dimana saya dianggap telah dewasa? Saya tidak tau…

Lalu mama menatap langit-langit mall, saya juga….

Mama bertanya: “kapan katanya dia kesini kak?”

Saya: “ga tau Ma, Ayu belum pernah tanya….”

Mama: “kenapa kak?”

Saya: “takut, kalo dia ndak mau kesini… biarlah dia kesini dengan keikhlasannya sendiri, Ma…”

Mama: “hhhhmmmm…ya…ya….”

Dan entah kekuatan dan keberanian dari mana saya menggenggam tangan mama, dan berkata dalam tunduk yang dalam di hadapan mama… ”Ma, jika ini memberikan kebaikan untuk Ayu dan Dia, Ayu memohon restu dari Mama… Mohon doakan agar Allah meridhoi dan memberkahi ini dan kita semua Ma…”

Saya tau saat itu mama pasti sangat terkejut! Gadis kecilnya yang setiap hari hanya sibuk bermain, membaca cerita novel-novel bagai dongeng, sibuk corat-coret dengan koleksi spidol dan  krayon warna-warni, akhirnya mengatakan hal seperti itu… Saya pun tidak tau bagaimana bisa saya berkata seperti itu. Itu hanya terjadi begitu saja, rasanya ingin menangis dalam pelukan mama… tapi saya takut memeluk mama, taku saya tidak bisa berhenti menangis hingga malam… Mama hanya tersenyum….”Ya, kalo Ayu bahagia….”

Saya pikir itulah puncak keberanian saya untuk hal seperti itu, pertama kali dalam hidup saya. Tidak ada yang pernah tau… tadinya hanya saya dan mama…

Akhirnya abang sulung saya pun telah saya beritahu. Saya belum punya keberanian untuk menceritakan apa yang terjadi pada saya ini pada abang saya yang tengah. Abang saya yg kedua ini sangat protective pada saya, dia tidak pernah ingin saya terluka, tersakiti, apalagi melihat saya menangis. Memang abang saya ini lebih keras dari abang saya yang pertama, karena abang saya sayang saya. Suatu saat pasti saya akan beritahu abang saya. Berbeda dengan abang saya yang pertama, abang saya yg pertama akan senang sekali jika saya mengalami yang namanya duka, disakiti, dikhianati… bukan karena abang saya jahat! Bukan! Abang-abang saya adalah laki-laki super baik! Abang-abang yang luar biasa baik! Abang saya yang sulung ingin saya merasakan hidup yang seimbang…katanya jika saya pernah merasakan dilukai maka saya akan tau bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan lebih baik. Kalo abang saya yg tengah mengajari saya dengan lebih keras, bagaimana caranya tetap terus mencoba lebih baik dan bertahan dalam keadaan sekeras dan disudutkan sekalipun. Dan tidak boleh ada yang membuat saya disakiti, dilukai, menangis, bahkan bersedih jika saya tidak pantas untk dibuat bersedih!

Tapi bagi saya kedua pelajaran dari abang-abang saya itu diartikan: “jika saya TERlukai, saya akan tau bagaimana cara saya membuat mereka yang tidak sengaja melukai saya tidak akan DIlukai! Bahwa semua orang adalah orang baik dan tidak pernah punya niat untuk membuat luka, hanya saja kadang kita terlalu rentan merasa TERluka…”

Saya sampaikan pada dia bahwa abang sulung saya sudah tau tentang ini. Dia bilang menunggu keputusan akhir hingga bulan Agusutus! Wooooowww…saya kaget sekali! Saya harus mempertimbangkan semuanya hingga akhirnya keputusan saya semakin bulat. Sementara itu saya dan dia menjadi… sahabatku kekasihku…

Di tanggal 20 April 2010, di suatu siang… di puncak gedung tempat saya bekerja….di puncak gedung Filosofia tempat saya mengabdi bekerja (*kata Dosen saya: Filosofia, berasal dari bahasa Yunani, Phillus: Cinta, Sofia: Mendalam) saya sampaikan pada nya, bahwa saya tidak ragu untuk semua ini, tapi saya tidak bisa saat ini, bagaimana jika maksimal 2 tahun lagi.

Saya lebih terkejut pada jawabannya saat itu…. Dia bilang suatu kalimat yang saat itu dapat saya tangkap seperti ini: “Baiklah… harusnya yang menjadi pendamping saya adalah orang yang punya keputusan yang sama dengan saya…”

Saya kaget sekali. Saya diragukan! Ingin sekali berlari dan katakana padanya bahwa saya tidak ragu! Saya percaya! Saya hanya butuh waktu! Waktu yang bukan untuk diri saya sendiri! Tapi juga untuk dia! Untuk saya dan dia untuk saling mengenal dan mempersiapkan mental! Karena semuanya pasti tidak akan sama dengan semua yang ada dalam fikiran dengan kenyataan tentang sebuah tahap selanjutnya. Perlu saling siap mental. Dan saya tidak ragu untuk sama-sama memperisapkan diri dan sama-sama belajar menjadi lebih baik bersama-sama! Tapi rasanya mungkin percuma saja saya berkata begitu. Semua hanya terasa seperti alasan-alasan saja nantinya. Hanya teoritis. Padahal saya jujur sejujur-jujurnya!! Hingga saya hanya mampu diam…

Jadi saya hanya bisa terdiam. Dan membiarkan fikiran, hati dan air mata saya terbang dengan sendirinya meninggalkan tubuh dan jiwa saya. Hingga saya lupa bagaimana caranya menangis, karena jiwa saya sudah lebih dulu melayang tanpa arah. Saya hanya berjalan tanpa tau apa yang saya lakukan. Saya kacaw. Tapi terlihat baik-baik saja bagi orang di luar. Saya masih tertawa terpingkal-pingkal, masih konyol, masih menunaikan tugas saya dengan semampu saya. Tapi dari dalam semuanya terkikis, berdarah-darah, tapi saya tidak mampu merasakan sakitnya.

Saya ingat di suatu malam, untuk pertama kalinya, saya beranikan diri untuk bertanya kapan dia kesini. Dia malah tertawa dan mengatakan saya seperti anak kecil. Saya pun ikut tertawa, lebih tepatnya menertawai diri sendiri, betapa menyedihkannya saya.  Dan malam itu pun dia mengisayaratkan bahawa itulah pelukannya yg terakhir untuk saya. Saya kaget sekali, hingga saya memebranikan diri mengatakan, “kalo gitu, jangan dilepaskan…” dan dia malah mengatakan: “baiklah, sampai Ayu tertidur ya?” Dan dia katakan: “tidak perlu mengungkapkan perasaan lagi…” Tau kah dia malam itu saya tisak tidur, saya takut tidur, karena nanti dia akan lepaskan pelukannya.

Di hari hari berikutnya saya berusaha tertawa-tawa, membuat semuanya terasa ringan. Masih berkomunikasi dengannya seolah sewajar mungkin. Sayalah yang dengan menyedihkannya tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak sering menghubunginya.

Tidak ada yang saya biarkan peduli apa yang saya rasakan. Saya sanggup menjalani semuanya sendirian. Masih bisa tertawa dan berbicara dengannya saja sudah membuat saya bahagia…

Dan saya cukup tau diri siapa saya…

Mei  2010….

Saya dan dia masih seperti dulu, walaupun sayalah yang masih sering tidak mampu menahan diri untuk menghubunginya. Padahal saya tau dia sedang sibuk. Saya hanya inigin memastikan bahwa dia sehat di sana. Dia sering lembur sampai pagi buta disana. Saya takut dia sakit. Saya terus berdoa pada Allah untuk tetap melindunginya, memberikan kekuatan padanya menjalani semua yg memang harus dia jalani, memberi kemudahan dalam pekerjaannya, memberikan kesehatan dan waktu yang berkah untuknya, membukakan pintu rahmat dan riski untuknya…

Kadang saya memang terlalu merisaukannya. Padahal sudah jelas bahwa saya bukan siapa-siapa. Lalu saat saya menyadari ini, saya akan meringis dan tertawa sendiri. Lalu ketiduran diatas sajadah dalam balutan mukena, terbangun dalam senyum penuh harapan….

Pertengahan Mei 2010…

Kebetulan abang saya ditugaskan keluar kota. Dan abang saya sengaja ke sebuah Pabrik Kopi di kota itu. Pabrik Kopi yang dari dulu ingiiiiiiiiin sekali saya datangi! Ya, saya pecandu kopi sejak masih kecil. Dan abang-abang saya sering memanjakan saya dengan kopi-kopi kiriman mereka. Dan tiap kali abang-abang saya katakan pada si penjual kopi bahwa ini kopi untuk adik perempuan mereka, si penjual pasti terbelalak. Apalagi waktu tau bahwa saya mencandu sudah sejak TK, bahkan tidak jarang di dalam dompet saya tersimpan bubuk kopi yang memang jadi simpanan darurat bagi saya. Dulu, waktu masih sekolah, mama sempat senewen karena tingkah saya yang sering mendadak ke kantin saat jam belajar hanya untuk minta aer panas…nyeduh kopi! Wahahahahahaha! Mama takut kalo-kalo bentar lagi saya ikutan merokok! Ga jarang dompet saya digeledah untuk diperiksa ada kopinya gak. Dan ga jarang kalo sdg senewen saya kumat, saya ngemil bubuk kopi! Saya ga tau kenapa saya tergila-gila pada kopi, segala macam bentuk kopi dari berbagai daerah, dari orisinil sampe yang sudah di mix, saya cobain!

Saat saya tau abang saya ke Pabrik Kopi yang jadi impian saya untuk menjejakkan kaki disana, saya ingin melihat sendiri pengolahannya, merasuki  jiwa saya dengan aroma kopi…waaaah saya jadi sinting sendiri! Saya mencak-mencak minta dibawakan kopi! Terutama untuk dia… karena dia juga suka kopi!

Saya ingin bubuk kopi Arabica. Tapi ternyata abang saya membelikan yang Robusta. Ga papa sih, keduanya punya keunikan tersendiri.

Arabica, terdapat di dataran tinggi, diolah dengan biaya lebih mahal, kadar kafeinnya rendah, kalau sudah matang bijinya jatuh sendiri, makanya harus cepat dipetik supaya rasanya ga berubah karena terlalu lama jatuh ke tanah.

Robusta, terdapat di dataran rendah, diolah dengan biaya lebih murah, kadar kafeinnya tinggi sehingga menyebabkan lebih tahan ngantuk, rasa tidak jauh beda dgn Arabica, kadang diolah bersama dengan Arabica untuk rasa yang berbeda. Bijinya tidak langsung jatuh ketika matang, sehingga lebih lama utk dipetik dan lebih tahan lama.

Itu yang mampu saya ingat sedikit tentang Arabica dan Robusta. Dan saya pikir…Robusta memang sepertinya sesuai dengan keadaan dia yang memang sedang sangat sibuk dan lembur sampai pagi buta.

Bukan sembarang kopi yang saya pesan! Saya ingin kopi terbaik untuk dia… hewhewhew… 😉

Bubuk kopi yang saya pesankan untuknya adalah dari biji kopi terbaik yang telah disimpan selama 8 tahun sebelum akhirnya diolah. Memang butuh waktu yang lama untuk menghasilkan yang lebih baik. Saya bahkan rasanya ingin ikut mengolahnya dengan tangan saya sendiri!

Saat bubuk kopi itu sampai pada saya, saya senang sekali, saya segera mencari kotak khusus untuk membungkusnya. Kotak yang lucu sekali. Tapi segera saya keluarkan lagi. Saya malu jika dia tau saya sampai mempersiapkan semuanya se-spesial itu. Jadi saya segera mencari kotak asal-asalan saja, dan menemukan sebuah kotak Shampo! wahahahaha…! Lalu segera saya ingin membungkusnya dengan kertas kado berwarna coklat. Saya juga menuliskan sesuatu dengan terburu-buru, dan tidak membaca ulang, supaya semuanya memang orisinal dan apa adanya.

Sayangnya jadwal saya di tempat kerja sedang padat, sehingga belum ada waktu untuk segera mengirimkannya. Kotak itu saya bawa kemana-mana, ditempatkan tidak jauh dari saya, supaya begitu saya ada waktu luang, saya bisa langsung memposkannya. Saya sengaja tidak memilih jasa pengiriman yang berbagai macam itu. Saya lebih memilih jasa Pos Indonesia, karena dulu cita-cita saya adalah bekerja sebagai tukang Pos di kantor Pos Indonesia! Dan bagi saya Pos memang berjasa!

24 Mei 2010…

Pukul 11.00 am. Saya punya kesempatan untuk keluar tempat kerja. Segera saya menyambar kotak kado yang telah saya lapis lagi dengan sampul  sampul padi (*niat bgt yak? Hewhewhew…:p). Teman-teman saya keheranan tentang kotak yang selalu saya bawa kemana-mana ini. Mereka mulai menebak aneh-aneh tentang kotak ini. Saya hanya tersenyum. Saya segera berlari keluar area tempat kerja saya. Berangkot ria menuju kantor pos terdekat. Begitu sampai di kantor Pos, saya ditanya isinya apa. Saya bilang kopi, dan saya diminta untuk membuka kotak itu. Saya tidak mau. Karena saya sudah bersusah payah membungkusnya dengan rapi. Saya tau bahwa ini sudah prosedur. Jadi saya meninggalkan kantor pos itu. Saya berlari-lari menuju kantor pos berikutnya, jauh sekali. Saya ngos-ngosan di siang buta. Sedang tidak ada angkot, saya tidak tau kenapa. Rasanya ingin sekali nekat nyetop pengendara yang lewat dan numpang hingga kantor pos berikutnya. Akhirnya saat saya berlari-lari untuk mengefisienkan waktu istirahat siang saya yang terbatas, saya dipertemukan dengan angkot kosong. Saya minta si supirnya ngebut, saya bilang: “penting pak…ayo ngebut!!”

Akhirnya saya mengirimkan paket kopi itu kepadanya… saya berharap kopi itu sampai dengan selamat dan dapat menemaninya saat lembur. Beberapa hari kemudian, dia menyampaikan bahwa dia telah menerima kiriman saya. Saya berdebar, saya cemas pada reaksinya. Apakah saya terlihat sangat menyedihkan dengan bersikap seperti itu padanya?  Saya tidak tau, saya hanya ingin melakukannya saja, lalu kemudian menjadi cemas sendiri. Mungkin cemas karena ada surat di dlm kotaknya. Saya lupa isinya, karena begitu selesai ditulis, saya langsung masukkan saja. Ternyata dia membacakan surat itu untuk saya, rasanya malu sekali. Mungkin saya memang menyedihkan, saya bukan siapa-siapa.

Awal Juni 2010…

Saya dikabari seorang sahabat tentang dia. Dulu, sahabat saya ini pernah mengalami sesuatu. Dan saya sebagai sahabat mencoba untuk berada disisinya, mencoba menguatkannya walaupun mungkin nyatanya saya tidak memberikan kekuatan apa-apa. Dan karena kejadian inilah saya secara tidak sengaja kenal dengan Dia… Awal berkenalan dengan Dia, saya tau bahwa dia sangat baik, dia banyak membantu sahabat saya ini. Mesipun awalnya saya kaget saat tau bahwa sahabat saya ini memeprcayakan rahasianya itupada dia, padahal saya mencoba menutup mulut untuk semua rahasia itu. Dan saya tau bahwa dia orang baik, karena dia mau membantu sahabat saya itu.

Awal Juni itu, sahabat saya mengabarkan pada saya sesuatu yang membuat saya limbung tiada terkira! Yang kemudian pada kalender ponsel saya menjadi pengingat: “Hikkkkkssss…”

Sahabat saya mengatakan pada saya: “Dia bilang ga ada perasaan apa-apa sama kamu….”

Saya: “oooooh…gitu ya….kapan dia bilang begitu?” (*perasaan ga karuan)

Sahabat saya: “beberapa waktu yg lalu, aku udah bilang supaya dia bilang langsung ke Ayu, supaya Ayu ga semakin berharap lebih. Tapi katanya nunggu waktu yang tepat…”

Saya: “hmmm…gitu ya… makasih untuk kejujuran ini…” (*dan saya semakin merasa betapa saya sangat menyedihkan dengan mengirimkan kopi seperti itu padahal disa sdg menjauhi saya…)

Saya kembali sendirian di puncak gedung Filosofia. Tidak ada yang saya biarkan peduli pada apa yang saya rasakan. Saya perlihatkan bahwa saya sdg tidak mengalami apa-apa. Karena memang tidak seharusnya saya merasakan apa-apa, bukankah saya ini bukan siapa-siapa. Di tidak salah jika dia seperti itu, karena saya memang bukan siapa-siapa…

Dan ternyata, yang namanya sahabat, pasti tau gelombang dalam hatimu. Seorang sahabat baik lainnya, datang pada saya, menanyakan ada apa sebenarnya dan meminta saya stop menipu semua orang dengan berusaha tertawa saja. Akhirnya dalam air mata menggenang dan tidak dibiarkan terjatuh, saya ceritakan tentang dia yang tidak punya perasaan apa-apa pada saya. Saya tidak memaksa dia untuk punya perasaan apa-apa pada saya. Saya paham perasaan tidak bisa dipaksakan. Dan saya tidak mampu memaksakan diri saya untuk tidak merasa sedih saat itu. Tapi kesedihan saya tidak pernah saya biarkan tampak olehnya. Saya masih berusaha bersikap biasa saja padanya, seolah saya tidak tau tentang pengakuannya pada sahabat saya. Saya masih percaya padanya selama saya tidak mendengar sendiri semuanya darinya.

Sahabat saya (yg memberi tahu saya tentang kejujurannya itu) terus-terusan menanyakan pada saya apakah sudah ada penjelasan dari dia? Saya bilang belum. Dia mengatakan sesuatu yang lebih membuat saya terkejut. Dia menceritakan sebuah rahasia yang tadi nya saya pikir cukup saya saja yang menyimpannya. Sahabat saya bertanya: “Yu, ada ga dia cerita tentang “ini” ke Ayu?” saya bingung mau jawab apa. Karena yang saya tau ini adalah rahasia, dan saya telah berjanji untuk menyimpannya sendiri! Kaget ternyata ada yang tau, apakah ini bukanlah rahasia? Ataukah saya kelewat berharap bahwa sayalah yang mampu menjaga ini semua. Dan begitulah saya, jika saya telah dipercaya untuk menyimpan sesuatu, saya berjanji pada diri saya untuk menyimpannya.

Saya hanya menjawab seperti ini pada teman saya: “mungkin dia pernah menceritakan ini pada saya, mungkin juga belum, atau bahkan tidak menceritakan. Mungkin saya aja yg kurang peka. Emangnya dia bilang apa sama kamu?”

Sahabat saya menceritakan semua yg sebenarnya saya juga tau, dan berkata: “tapi jangan bilang-bilang kalo aku bilang ini ya…”

Dalam hati, aku berkata: “CUKUP!”

Ya, saya akan simpan hingga nanti saya perlu mengungkapkannya bahwa dia juga telah menceritakannya padanya. Siapa yang menyimpan, siapa yang mengungkapkan, siapa yang belum tahu, siapa yang tidak tahu… biarlah hanya Allah yang tahu…

Tidak ada yang tau bagaimana perasaan saya waktu itu. Saya simpan semua sendiri, bahkan saya masih berkomunikasi dengan riang gembira padanya, walaupun saya merasakan dan menyadari perubahannya. Saya menunggu hingga dia siap mengatakan semua nya pada saya. berkali-kali dalam nada bercanda saat saya dan dia sdg bercanda, saya mencoba melemparkan pertanyaan santai: “apakah ada yg inigin disampaikan atau diceritakan?” dia bilang: “tidak ada…” saya pun hanya mengatakan: “yakiiiiiin?? Hehehehehehe… yawdah kalo begitu…”

Saya menyadari perubahan sikapnya, dan saya berusaha tidak berubah, berusaha memahami perubahan sikapnya bahwa dia “tidak ada perasaan apa-apa” pada saya, seperti yang dia katakan pada sahabat saya. Terkadang, saat saya sendiri, lama saya terdiam menatap langit. Saya memahami semua ini, wajar jika dia bersikap seperti ini pada saya, memangnya saya siapa?! Dia berhak bahagia… dan saya memang bahagia jika dia bahgia. Begitu panjang tulisan di diary saya pada masa-masa ini. Masa di saat saya semakin yakin padanya. Sementara dia saat itu mungkin sdg menjauhi saya….

Akhir Juni 2010

Sahabat baik saya yang lain tidak tahan melihat kepura-puraan saya. Secara mendadak di tengah malam, sahabat saya mengirimkan sms pada saya. berisi kalimat percakapan mereka. Dia mengatakan  pada sahabat saya ini tentang kedekatannya dengan seorang perempuan. Saya tidak terlalu terkejut dengan sms ini, karena toh sebenarnya saya sudah tahu. Tapi ternyata sms berikutnya mengabari saya bahwa ini adalah pada perempuan lain lagi. Saya tidak mengerti. Sebenarnya mana cerita yang sebenarnya. Mengapa terlalu banyak versi? Saya bingung. Dan inti dari semua itu adalah….saya TIDAK ADA disitu! Saya tertawa sambil meringis. Betapa menyedihkannya saya.

Saya mencoba sewajar mungki tetap berkomunikasi seceria mungkin dengannya. Karena saya ingin ini menjadi ringan saja, terutama untuk saya. Mungkin bagi sahabat-sahabat saya yang pada akhirnya tau keadaan ini, saya terlihat sangat menyedihkan. Mereka terus berusaha menguatkan saya, bahkan terkadang dengan emosi menasehati saya. dan saya tetap percaya padanya, karena bagi saya dia orang baik… dan memang baik pada saya…

Saat menulis ini, saya masih membolak-balik diary saya, membaca ulang tulisan-tulisan yang telah saya tulis, membuat saya tertawa sambil meringis… saya memperthatikan kalender di ponsel saya…”tanggal 2 Juni 2010” ada catatan: “Sakiiiiiiiit #1” saya tertawa sambil mengelus dada kiri saya. ini tidak seberapa, buktinya saya masih mampu tertawa seperti ini, saya masih bisa menyebarkan senyum kemana-mana setiap hari…Alhamdulillah…

Pada lembar-lembar di bulan Juni ini saya banyak sekali menemukan tulisan-tulisan mengenai keterkejutan saya. Saya tidak mengatakan bahwa semua yang telah saya lalui di hari-hari sebelumnya adalah tindakan bodoh. Karena saya melakukannya dengan sepenuh hati, dengan memohon izin dan ridho dariNya. Dan saya bersedia melakukan semuanya…

Saat itu saya masih menunggu kapan kira-kira dia akan menjelaskan semuanya pada saya. Menurut sahabat saya, dia mengatakan pada sahabat saya bahwa dia sdg menunggu waktu yg tepat utk mengatakan pada saya, karena takut saya akan mewek….

Hahahahahaha….mungkin dia tidak tau atau lupa bahwa saya telah melalui banyak hal, yang membuat saya berusaha menahan tangis saat berhadapan dengan kejujuran. Saya menghargai semua kejujuran, karena tidak mudah untuk berusaha jujur sementara kamu takut menyakiti.

Saya menemukan tulisan ini dalam Diary saya:

“Ingin sekali saya bilang sama dia: Tenang aja…Bapak ga perlu khawatir saya akan tersakiti. Saya tidak akan sakit kok. Kan Bapak sendiri yang pernah bilang beberapa kali ke saya, bahwa Bapak tidak akan melukai dan menyakiti saya. Jadi berarti Bapak tidak ada niat menyakiti saya, lalu kenapa saya harus merasa sakit?”

Hahahahahahaha…lucu sekali! Saya mati-matian mengatakan pada diri saya bahwa ini tidak sakit! Dia orang baik, dia tidak akan pernah menyakiti atau melukai saya! Dia sendiri yang beberapa kali bilang begitu ke saya, ingatkah dia pernah mengatakan ini?

Dan saya percaya bahwa dia tidak akan pernah melukai atau menyaikiti saya. Saya persiapkan diri untuk tidak merasa sakit.

Awal Juli 2010

Belum juga ada tanda-tanda bahwa dia akan menjelaskan kejujuran pada saya, sementara saya dihadapkan pada banyak sekali kenyataan. Saya memang meminta kekuatan dari Allah, dan meminta dipersiapkan untuk menerima kenyataan. Dan memang saya diperlihatkan pada banyak sekali kenyataan. Berkali-kali kedaan mengantarkan saya diperlihatkan secara unik tentang perempuan-perempuan yang menag saat itu sedang dia dekati. Saya tersenyum, dan membiarkan jiwa saya pergi lagi agar saya tidak merasakan apa-apa.

Cara Nya memang sangat unik. Cara Nya memperlihatkan pada saya sungguh sangat indah, dari berbagai macam arah dan sisi. Dari segala penjuru, saya diberikan semua yang saya perlu tau agar saya kuat. Padahal saya tidak mencari tau, semuanya muncul sendiri dihadapan saya…

Salah satunya melalui Facebook. Saat itu saya tidak bisa mengirimkan komen padanya, seolah saya sudah terdelete dari pertemanannya. Saya kaget sekali, saya coba search namanya dari Opera Mini Ponsel saya. Ketemu!!! Dan ternyata lengkap dengan kirimannya pada dua orang perempuan… yang membuat jantung saya berdetak hebat. Tangan saya mengigil. Saya melihat semua…saya menyadari semua…

Saya pejamkan mata, saya telpon dia. Tapi yang terjadi malah obrolan penuh tawa, saya tidak bertanya apa-apa tentang apa yang saya lihat. Saya bertanya apakah saya di delete dari pertemanannya, dia bilang tidak. Lalu saya dan dia malah ngobrol seru, saya melupakan degup dan mengigil di tangan saya. Mendengar tawanya saja sudah mampu membuat saya tersenyum dan merasa baik-baik saja. Ya, saya baik-baik saja…

Saya mulai sibuk menunggu dengan tidak sabar, kapan dia akan menjelaskan pada saya, benarkah dia menunggu waktu yang pas untuk mengatakan ini pada saya. saat itu saya bahkan menuliskan dengan sangat emosional dalam diary saya: “menunggu waktu yang pas? Untuk siapa? Waktu yang pas untuk saya? Atau untuknya sendiri? Hiks…hiks….”

Akhirnya…saya beranikan diri untuk sama-sama membantu menemukan waktu yang pas untuk menjelaskan semuanya.

Sekali lagi saya menemukan catatn di kalender ponsel saya tertanggal 2 Juli 2010: “tidak sakiiiiiiittt… (T_T)”

Sebelum saya menghubungi dia, saya menelpon mama dan abang saya, saya jelaskan sedikit ceritanya. Betapa kaget mama dan abang saya atas apa yg terjadi, perasaan yang saya pendam sendiri. Mama dan Abang tidak menyangka bahwa selama 2 bulan belakangan saya memendam keresahan, kegundahan, kesedihan saya seorang diri. Setiap kali mama atau abang saya bertanya tentang dia, saya selalu bilang…dia baik pada saya! sangat baik! Saya bahagia! Tidak ada yang pernah mengira dalam derai-derai tawa saya setiap hari itu tersimpan derai-derai air mata yang jatuh ke dalam. Dalam keceriaan dan keriangan saya setiap hari tersimpan perasaan terselubung di dalam. Saya katakan pada mama dan abang saya bahwa saya akan menelpon dia, agar dia diberi kesempatan untuk menjelaskan pada saya. saya katakan pada abang dan mama saya bahwa saya tidak akan sakit! Insya Allah saya akan baik-baik saja, karena dia tidak pernah punya niat untuk menyakiti saya. ini hanya tentang perasaan yang tidak bisa dipaksakan, dan saya mengerti. Saya tidak mau membuatnya tidak nyaman dengan semua perasaan saya padanya. Saya ingin dia bahagia.

Hari itu… 2 Juli 2010, saya memelih ruangan pojok di lantai 6 tempat kerja saya, ruangan paling sepi, paling sunyi dan membuat suara bergema. Saya menelponnnya dengan sapa riang. Dan mengalirlah semuanya. Saya bertanya, dia menjawab dan menjelaskan. Saya mengatakan apa yang saya tau, lalu saya tanya lagi ke dia. Semuanya mengalir begitu saja. Bahkan kejadian penting ini telah saya tuliskan dalam blog ini dengan judul “Dengan cara yang jauh lebih baik”.

Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu itu, kacaw, berantakan, tapi saya terima. Inilah kejujuran. Penghargaan paling besar untuk seseorang adalah dengan berkata jujur padanya (*ngutip dari kalimat sahabat saya). Bahkan saya menanyakan padanya: “Apakah bapak menyukai “A”? “ (*saya menyebutkan nama sahabat yg memberitahu saya tentang kejujuran ini pertama kali). Dia bilang: “iya!”

Tidak ada yang tau bahwa saya mencengkram erat pegangan kursi, mencoba tidak limbung, padahal saya tau bahwa saya tidak akan terjatuh dari kursi itu. Dan saya tau, bahwa saat itu saya adalah sahabat. Jadi, saya katakan padanya semoga berbahagia.

Dan saya bahagia masih bisa membicarakan semua itu sambil tertawa satu sama lain. Saya sempat lkatakan padanya: “saya merasakan sesuatu berkembang di dalam diri saya, entah apa….”

Sejak hari itu saya menyibukkan diri. Saya kerja sampai lupa waktu, saya tidur lebih cepat, hanya agar saya membunuh sendiri pikiran-pikiran dan perasaan saya. Saya berusaha tampil lebih ceria, lebih semangat. Sehingga semua orang kaget melihat perubahan saya. Bahkan berat badan saya turun 10 kg, tapi tetap terlihat fresh. Karena saya lebih banyak menebarkan senyum dan keceriaan, lebih tampil dengan warna-warna ceria, tidak lupa berdandan lebih manis dan penuh semangat…

Jika malam tiba, mama akan melongokkan kepalanya ke kamar saya untuk mengucapkan selamat tidur, sambil berkata: “jangan terlalu dipikir ya nak….”

Dan saya sambil bercanda berkata: “haduuuuuh Ma, otak Ayu kan keciiiiiiiiiiiiiiil, jadi emang ndak bisa mikir yang banyak-banyak….hewhewhewhew….”

Beberapa kali abang saya mengajak saya liburan ke rumahnya, bermain dengan ponakan saya yang lucu, gangguin kakak ipar saya masak, nyobain resep-resep baru, berenang bersama…. Semua kegiatan yang penuh tawa. Saya tau itu semua karena semua orang peduli pada saya.

Begitu juga dengan sahabat-sahabat saya, beberapa kali mereka mengajak saya hang out, sekedar untuk tertawa bersama. Kadang hanya untuk ngumpul di rumah teman, masak bersama, makan bersama,  saling share, jalan-jalan, kadang sengaja karokean bersama dengan pilihan lagu-lagu yang bikin terpingkal-pingkal. Karena lagu-lagu yang dipilih adalah lagu-lagu yang nyindir saya karena nyaris semua lirik nya diganti dengan kompakan, dan mereka menari-nari di depan saya.

Begitu juga susana ruangan kantor. Saya tau bahwa mereka secara tidak sengaja menemukan folder terselubung saya berisi beberapa tulisan hati saya. Sehingga mereka semakin sayang pada saya. saya memang tidak membiarkan orang lain peduli pada apa yang saya rasakan. Karena saya memang akan tetap baik-baik saja. Meskipun akhirnya saya menceritakan beberapa part pada mereka, hanya agar mereka paham bahwa kita semua disini saling menguatkan.

Saya bersyukur berada di tengah lingkungan yang peduli pada saya, bahkan disaat saya tidak peduli pada diri saya sendiri. Allah memberikan mereka kekuatan yang luar biasa untuk menyayangi saya.

Dan pada masa-masa itu saya masih sering merasa senang saat mendapat sms dari dia, yang kemudian buru-buru saya bunuh lagi karena saya cukup tau diri.. maka saya hanya berperan sebagai Ayu yang memang tetap ceri dan konyol…

Awal Agustus 2010

Sudah memasuki bulan Ramadhan. Tau kah dia bahwa dia telah masuk ke dalam doa-doa saya sejak bulan Ramadhan tahun sebelumnya?

Dia sempat mengucapkan maaf lahir batin pada saya, yang sebenarnya tidak perlu karena memang dia tidak bersalah.

Komunikasi yang sempat menjadi sangat langka menjadi lebih membaik. Pada masa ini saya masih luar biasa menyibukkan diri. Saya sering pulang malam karena saya sengaja mengambil pasien visite. Kebetulan tempat tinggal pasiennya cukup jauh, kadang saya menempuh 2 jam perjalanan hanya untuk sampai ke rumah pasien, tapi saya menikmati itu. Saya menggunakan bus kesana, naik sebagai penumpang terakhir, berdesak-desakkan harus berdiri sepanjang perjalanan dengan tas tentengan besaaaaaarrrr sekali! Satu persatu penumpang turun, meninggalkan saya seorang diri  dmenjadi penumpang terakhir yang turun di halte paling akhir. Ini membuat saya cepat dikenali oleh para petugas Metro.

Begitu pun saat pulang, saya akan menjadi penumpang pertama di halte paling akhir. Kebetulan saat itu sedang musim hujan. Jadi di dalam bus, saat saya melihat ke luar jendela, menatap pada matahari yang kian tenggelam, si petugas Metro sering sekali memutarkan lagu: Karena ku Sanggup nya Agnes, membuat saya tersenyum, dan malah nyanyi berdua dengannya. Lalu si petugas yang berumur itu melemparkan senyum pengertian pada saya, saya pun melemparkan cengiran padanya. Maka setelah lagu itu berakhir, si petugas mengganti lagu dengan yang lebih semangat. Nyaris  seperti itu setiap hari. Bahkan pernah waktu itu saya nyanyi kelewat menghayati, nyaris menggenang, saya malah disodorin ember! Maka kami pun tertawa terpingkal-pingkal!

Komunikasi saya dan dia masih seceria dulu, masih saling tertawa satu sama lain. Saya tau saat itu dia tengah disibukkan dengan kerjaannya. Saya masih terus berdoa agar Allah melindunginya, memberikan waktu yang berkah untuknya.

Disaat yang sama, saya mendapatkan sebuah email entah dari siapa, kata-katanya kasar sekali. Saya mencoba tidak menggubris, tapi itu justru membuat si pengirim email semakin bersemangat. Saya sungguh tidak mengenali siapa dia, tapi dia seolah tau apa yang saya alami, mengata-ngatai dan mengasihani saya dengan kata-katanya yang kasar. Saya mencoba memendam semua ini sendiri. Saya diamkan saja. Sampai akhirnya saya tidak tahan dan menyampaikan ini pada sahabat saya, yang ternyata memendam hal yang sama! Sahabat saya juga mendapatkan email yang nyaris persis separti itu juga. Kami sama-sama tidak tau dia ini siapa. Hanya saja seolah orang ini memantau aktifitass kami di Facebook. Saya dan sahabat saya segera meningkatkan pengamanan Facebook. Yang lebih parah lagi, bahkan sahabat saya ini juga mendapatkan sms dari orang tersebut. Awalnya kamimenduga ini adalah orang yang sama, tapi karena sahabat saya ini sempat meladeni si pengirim, kami jadi tau bahwa ini orang yang berbeda karena dia memojokkan kami dengan sisi yang berbeda. Akhirnya dengan tingkat muak yang luar biasa, sahabat saya segera membuat akun baru, sementara saya mencoba bertahan dengan akun lama, dan tetap tidak mempedulikan si pengirim email. Beberapa sahabat bahkan menyarankan saya untuk memblokir beberapa nama. Tapi saya tidak peduli. Bagi saya ini semua tidak akan memmepngaruhi saya, karena saya bahagia….

Beberapa sahabat mencoba mengingatkan saya untuk tidak memeprsiapkan diri menyakiti diri saya lagi. Saya katakana bahwa saya memang tidak menyakiti diri saya. Dan mereka semua hanya bisa pasrah pada apa yang saya lakukan. Saya mengerti bahwa mereka semua hanya tidak ingin saya bersedih, dan saya menang ingin buktikan bahwa semua kepedulian mereka pada saya tidak akan saya sia-siakan. Bahwa inilah yg saya pilih dan saya yakin!

Kakak ipar saya pun mencoba menasehati saya dengan berkata: “pedulilah pada diri Ayu sendiri! Walaupun Ayu menjelaskan semuanya dengan mengunakan kalimat-kalimat Ayu yg baik-baik itu, tapi bagi kakak…Ayu harusnya bisa marah kalo memang mau marah! Kalo mau nangis, nangis aja!”

Tapi memang saya biarkan saja semua ini, karena saya memang telah menyediakan diri untuk menjalani semua ini, sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk merasa tidak mampu. Komunikasi saya dan dia semakin baik, saya senang sekali. Meskipun disaat itu juga semua orang mengkhawatirkan saya. Mereka hanya tidak mau saya kehilangan pendar keceriaan saya, mereka menyayangi saya, tp mereka pasrah atas apa yang saya lakukan, karena mereka bilang: “Kamu udah besar, kamu tau apa yang kamu lakukan, dan kamu pasti siap menangungnya… Asal jangan mempersiapkan diri untuk terluka” itu membuat senyum saya mengembang…

Dan saya katakan…”Insya Allah, Ayu menunggu hingga Desember untuk semua kepastian…. Biarkan kedaan turun naik seperti ini hingga Desember nanti. Ayu memberi kesempatan untuk diri Ayu sendiri hingga Desember…untuk tetap mengerti dan memahami semua sikapnya ini.  Semua kepastian di Desember akan menjelaskan untuk di 2011 dan next yang terjadi di 2012, atau bahkan lebih cepat. Insya Allah.. Bismillahhirahmanirrahim…”

September 2010

Komunikasi saya dan dia semakin baik saja, sudah nyaris seperti dulu lagi, saya bahagia sekali. Meskipun saya dan dia sedang sama-sama sibuk, tapi saya dan dia masih punya waktu untuk sekedar menyapa dan tertawa bersama.

Setiap hari bisa saling berbicara dengannya, tertawa bersama, dan berusaha membuat semua keadaan menjadi lebih baik dan lebih terasa ringan. Saya benar-benar bahagia.

Saya tau apa yang saya rasakan, meski saya tidak kenal persis perasaan apa ini.

Akhirnya saya putuskan untuk memberanikan diri mengatakan apa yang saya rasakan, meski saya tidak tau bagaimana mengatakannya. Meskipun nantinya ini akan menjadi sangat memalukan.

Saya kembali membolak-balik lembar Diary saya pada bulan September ini, saya menemukan di tanggal 23 september 2010…

“saya pikir…mungkin saya mencoba memastikan saja apakah tidak apa-apa jika saya memang masih menyimpan perasaan yang sama padanya? Saya tidak akan membiarkan diri saya memendam sedih, saya ingin bahagia. Jadi saya harus tau! Dia harus tau!”

Malam itu saya sms dia dan saya katakan bahwa saya akan menelpon dia untuk menyampaikan sesuatu. Dan memang saat itu saya menelpon dia. Saya memang bingung bagaimana mengatakannya, saya malah ngobrol seru dengan dia. Akhirnya saya beranikan diri untuk berkata: “Ummmm…maaf…bapak, apakah bapak memahami apa yang saya rasakan?”

Dia bilang: “Ya, saya paham….”

“Bapak sendiri bagaimana?”

“Perasaan saya masih sama…”

Itu benar-benar jawaban yang tidak saya mengerti. Tapi tidak masalah bagi saya, yang penting dia bilang bahwa dia paham dengan perasaan saya, itu sudah cukup bagi saya. Saya bahagia. Walaupun saya takut akan seperti apa komunikasi ini nanti setelah saya bertanya seperti itu. Saya cemas. Dia pun sempat bertanya pada saya, mengapa saya bertahan. Saya hanya tertawa, dan dalam hati saya berbisik… “karena semua yang rasakan ini hanya karena Allah…”. Tapi yang terucap dari mulut saya malah tawa, sambil menanyakan hal yang sama padanya. Dia mengatakan bahwa dengan saya, dia merasa nyaman, dia menceritakan apa saja, termasuk rahasianya, dai juga mangatakamn bahwa saya selalu menerima dia apa adanya. Sejujurnya saya bahagia, dan itu saja sudah cukup bagi saya.

Dia juga sempat menagtakan bahwa saya adalah “pilihan terakhir” diantara semua pilihan-pilihan yang ada disekitarnya. Saya cukup bahagia dan bersyukur untuk menjadi “pilihan terakhir” saat mungkin dia merasa tidak ada pilihan lain lagi… Dan sekali lagi, saya cukup tau diri, bahwa saya mungkin tidaklah penting… saya hanya tidak ingin dia terbebani oleh adanya saya, saya tidak ingin dia merasa terpaksa menerima perasaan saya…

Alhamdulillah… komunikasi menjadi semakin baik. Dia banyak cerita, bahkan tentang perempuan-perempuan yang sedang dekat dengannya. Saya bahkan menuliskan seperti ini di Diary: “Banyaaaaaaakkkkk banget ya? Tau kah dia, bahwa saya disini dengan tegas berkata TIDAK pada mereka yang datang! Saya tidak peduli di cap aneh, bodoh, tolol atau apapun dengan mengatakan “tidak” pada mereka-mereka itu! Janganlah dekati saya, saya sudah tau kemana arah saya!”

Ya, memang saya tidak pernah membiarkan laki-laki manapun bebas masuk ke dalam hati saya. seperti mereka-mereka itu, saya akan dengan senyum berkata pada mereka….”saya memang sendiri, tapi saya sedang  menyimpan perasaan saya untuk seseorang, maafkan saya…”

Dan saya memang cukup kaget pada rekasi-reaksi mereka. Ada yang tidak percaya, dengan berbuat sedikit nekat. Ada yang malah menjadi ingin tau siapa seseorang ini, dan bagaiaman bisa saya segitu percaya pada dia. Bahkan ada yang beraksi dengan mengatakan bahwa apa yg saya lakukan ini adalah konyol! Menunggu seseorang yang tidak memberikan kejelasan pada saya. Saya hanya katakan bahwa saya percaya…dan saya tidak main-main! Jadi sebaiknya tidak usah main-main dengan saya. Meski terkadang semua sikap baik, unik, nekat dari mereka-mereka itu membuat saya iseng berpikir.. saya harap dialah yang melakukan semua itu untuk saya…

Taukah dia bahwa goncangan besar tidak mampu mengoyahkan saya. dan saya masih bisa tersenyum mendengar cerita-cerita dia dan perempuan-perempuannya. Saya percaya bahwa dia akan cukup kuat. Semoga Allah menguatkan saya dan dia…

Sedikit nanar matanya membaca tulisan di Diary saya tertanggal 25 September 2010…

Lembar-lembar ini berisi tentang dia mengajak saya saling berbicara Solusi untuk semua ini. Dia menanyakan apa solusi dari semua ini. Dan saya bertanya padanya ingatkah dia pada jawabannya saya di bulan Maret. Dia bialng: “lho? Emang Ayu bilang apa waktu itu?”

Saya benar-benar kaget! Ternyata dia tidak mendengarkan bahkan mengingat apa yang saya katakan. Awalnya saya sedih menyadari ini, tapi saya pikir…ya sudahlah, mungkin saat itu saya mengatakn dengan tidak cukup jelas sehingga dia memahami. Saya mengatakan: “menurut saya…kalo memang mau serius, mungkin sebaiknya stop berkelana…”

Dia bertanya sampai kapan, saya sekali lagi katakan…maksimal 2 tahun… jawaban yang juga saya katakana padanya di bulan Maret. (*dalam hati saya berdoa semoga Allah memberikan petunjuk waktu yang tepat untuk semua ini bagi saya dan dia…)

Saya berharap dia mengatakan sesuatu…

Dan ternyata yang dia katakan justru membuat saya terkejut! Dia bilang “jalani saja hidup ini apa adanya… “ karena dia tidak bisa stop berkelana selama 2 tahun…

Saya sangat sangat memahami ini. Teramat sangat…

Memang saya ini siapa?! Apa hebatnya saya sampai membuat dia stop berkelana selama 2 tahun…

Jadi saya tertawa saja. Biarlah… biarlah Allah yang tau… Biarlah Allah yang menentukan segala yang baik untuk saya dan dia… Karena yang saya harapkan adalah ridho dan berkahNya…

Dan saya memang setuju untuk menjalani hidup apa adanya. Jadi saya menjalani dengan apa adanya. Allah akan mengarahkan ini jika ini memang baik. Saya benar-benar semakin bahagia. Saya dan dia semakin saling terbuka dan apa adanya. Saya bersyukur…

Sampai pada tanggal 28 September 2010, akhirnya dia menghubungi  Mama! Saya kaget sekali, juga senang. Saya memang sebenarnya ingin seperi itu. Saya ingin mengenali dia, sering saya bertanya tentang dia dan keluarganya, tapi dia belum banyak cerita. Dan saya kaget sekali dia sudah menghubungi Mama, bahkan di berikutnya dia berkomunikasi dengan abang saya.  saya semakin yakin pada arah saya. Saya memang sudah katakan pada Mama dan Abang saya bahwa saya memang menunggunya, meski mungkin dia tidak tau.

Oktober 2010

Saya semakin bahagiaaaaaaaaa….. saya benar-benar memohon pada Allah…jika ini baik, berikanlah Ridho dan berkahNya dalam hubungan ini.

Karena semua ini Especially for Him…!! J

Semakin saya bahagia, saya tau bahwa orang-orang yang sayang pada saya semakin khawatir, mereka hanya tidak mau melihat saya bersedih jika nanti ini tanpa sengaja membuat saya bersedih. Berkali-kali mereka semua memastikan keyakinan saya. Saya katakan: “Ya! Ayu Percaya! Ayu bahagia! Hewhewhew…”

Mereka bertanya lagi: “dari mana Ayu yakin bahwa ini tidak akan seperti dulu lagi? Ingatkah Ayu pada keadaan Ayu yg mencoba menipu semua org dengan tetap terlihat bahagia?”

Saya katakan: “Karena saya bersedia untuk mempercayai perasaan ini! Hewhewhewhew…”

Sekali lagi semua orang hanya bisa pasrah tapi juga tetap menjaga saya dengan diam-diam…

Serasa dunia lebih berseri untuk saya, serasa semua terasa melayang-layang… saya memang bahagia dan mengahabiskan lebih banyak waktu ekstra untuk mengadu padaNya, karena hanya Dia yang Maha Mengetahui…

Bahkan dia sempat mengatakan pada saya: “jaga diri disana, tunggu saya datang…”

Saya pun dengan semakin mantap dan yakin mengatakan “Ya…”

Ingatkah dia dengan ini semua??

Awal November 2010…

Saat semuanya terasa indah bagi saya, saya harap begitu juga bagi dia. Saya harus menerima kenyataan bahwa dia berubah. Saya tidak tau apakah ini hanyan perasaan saya saja. Tapi memang jelas sekali terasa. Saya tidak tau apa yang terjadi dengan dia, apa yang sedang dia alami. Saya hanya tetap mencoba menerima semuanya. Mungkin benar, jika kita mengenali seseorang, perubahan sekecil apapun akan cepat sekali kita sadari….

Hingga perubahannya semakin jelas terasa membuat saya tidak tahan untuk tidak berbagi pada sahabat saya. Saya memintanya datang pada saya, mendengarkan saya, menopangi saya. Ya…sahabat saya datang, dan saya tau….bahwa sahabat saya ini pasti tidak tau harus bersikap seperti apa pada saya. karena sahabat saya ini sudah berkali-kali memperingatkan tentang kenyataan-keyataan seperti ini, tapi saya kelewat yakin. Saya tau bahwa sahabat saya ingin sekali memarahi dirinya sendiri karena telah mebiarkan saya mengalami ini lagi. Saya tau bahwa saya teah sekali lagi membuat sahabat-sahabat saya tdk mampu memarahi diri mereka sendiri karena membiarkan saya mengalami ini lagi…

Secepat itukah baginya berubah? Scepat itukah melupakan semua? Ataukah mungkin memang tidak ada yang diingat tentang semua ini… hanya saya saja yg mengingatnya…

Jangan tanya bagaimana perasaan saya waktu itu. Berantakan. Ini bukan pertama kalinya saya berkata tetap menunggunya pada semua orang bahwa saya tetap pada perasaan saya, tetap menunggunya, hanya DIA… ini sudah yang kesekian kali… dan entah kenapa jauuuuuhhh di dalam hati, saya memang tetap pada pendirian saya.

Abang saya sempat menanyakan tentang dia. Saya menjawab apa yang saya alami. Abang saya menagtakan… ”Tujuan akhirnya mungkin memang Ayu, tapi entah kenapa dia bersikap seperti ini pada Ayu, mungkin hanya karena dia gak tau. Abang juga laki-laki Yu… kalo dari siis laki-laki sih abang setuju-setuju aja dgn sikap dia, ada banyak perempuan, kenapa ga dijalanin aja. Tapi abang adalah abang Ayu, sikapnya Salah jika dia memperlakukan Ayu begini. Dan coba tanya laki-laki lain kalo Ayu menceritakan semua ini, mereka juga akan mengernyit atas sikapnya pada seorang Ayu… dia hanya tidak tau bagaimana Ayu… Sudahlah jiak dia memang begitu… masih banyak yang akan memperlakukan Ayu dengan baik… “

Saya tau abang-abang saya sangat saying pada saya. Berkali-kali abang dan kaka saya mencoba membobol FB atau ponsel saya untuk meminta saya memblack list saja dia, karena mereka tidak tahan melihat saya. Tapi saya dgn tertawa-tawa mengatakan “Ayu baik-baik aja kok…”

Dan saya diancam… kalo sampe saya sedih atas ini semua, abang-abang saya serta kakak saya akan memastikan akan sampai di depan dirinya… entah untuk apa, saya tidak tau. Tapi saya sekali lagi katakan bahwa saya bahagia, saya yakin, saya tidak sedih, dia tidak akan pernah menyakiti dan membuat saya bersedih!

Saat itu salah satu abang saya memang sdg berada di temapt yg tidak jauh darinya. Jadi saya sering di pantau, kalo saya mulai aneh-aneh, saya akan diingatkan tentang betapa dektanya lokasi mereka sekarang… dan itu membuat saya tertawa tapi juga cemas…

Akhir November 2010

Di suatu malam, sahabat saya mengirimkan inbox ke saya.  Cukup panjang inbox itu karena berisi copy paste dari email yg dikirim oleh sahabat saya ke dia lengkap dengan balasan dari dia. Saya kaget sekali membaca semua itu. Saya tau bahwa sahabat saya ini sangat sayang pada saya,bahkan saya sudah menganggapnya seperti saudari kandung, dia gak tahan melihat saya saat itu, dan mengirim email seperti itu pada dia. Yang lebih membuat saya terharu adalah kalimat-kalimat dari sahabat saya kepada dia:

“….tolong dijawab jujur, cukup saya aja yg tau apapun jawabannya… biar saya bisa mmebantu Ayu untuk mengarahkan perasaannya yg campur aduk, saya ga mau dia depresi gara2 ini, karna ga sekali dua kali dia cuma termenung, nangis, ketawa dibuat2..saya sedih liat dia kayak gitu.. saya tau dia pasti kuat, seandainya dia tau kepastiannya! Karna dia punya saya! saya yg akan selalu jadi topangan dia! Ga akan saya biarkan dia…uhmmm saya rasa Bapak taulah gmn seorang sahabat sama sahabatnya sendiri… Dia bilang dia mau nunggu sampai akhir Desember, sementara selama menjelang Desember itu dia menyakiti diri sendiri atas perlakuan bapak selama ini sama dia, sy tau bpk ga akan jahat sama dia, tp saya juga tau ada maksud dari semua perlakuan2 bapak selama ini terhadap dia… saya minta tolong dengan sangat, apa maksudnya… biar saya bisa jadi topangan yg benar buat Ayu, bukan menjadi sahabat yg menyesatkan dan membuat dia melewati kesempatannya…  ”

Saya benar-nbenar terharu dan semakin menyadari bahwa saya disayangi lebih dari yang saya tau… bahwa saya telah membuat Sahabat saya ini, dan juga lebih banyak lagi orang mengkhawatirkan saya, karena semua menyayangi saya…

Saya lebih kaget lagi ketika membaca balasan inbox dari dia kepada sahabat saya. Bahwa dia saat itu sedang dekat dengan 3 perempuan yang dikenalkan oleh orang-orang baik yang berada bersamanya disana. Dan saat itu dia sedang menjalani proses perjodohan oleh teman-temannya itu.

Jangan..jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu. Saya luar biasa limbung, seolah saya berada di puncak paling tinggi dan terjatuh begitu saja, dan tidak tau bagaimana keadaan saya saat saya sampai di tanah, atau bebatuan, atau padang rumput, atau kedalam laut, atau kedalam api.

Saya tidak mengerti bagaimana bisa secepat itu dia lupa… dia lupa tentang semua… dia lupa bahwa saya sudah katakan “Ya…” bahwa saya menungggu. Dan Dia sendiri yang bilang supaya saya menunggu, meskipun jika dia tidak meminta saya menunggu, saya memang telah katakan ke semua orang bahwa saya hanya menungu DIA! Padahal masih seminggu sebelum email ini dikirim ke saya, dia masih sehangat biasa, masih segar di telinga saya semua kalimat-kalimatnya. Tapi sekarang apa???!!!

Saya segera print email panjang itu dan sengaja saya simpan di dalam dompet.

Di sutu pagi, saat saya masih berusaha melebarkan senyum saya, sambil bercermin dan membubuhkan sedikit blush on di pipi saya, membuat mama tertawa-tawa memperhatikan saya, sebuah sms masuk ke ponsel saya. Dari sahabat saya yg mem-Forward sms dari Dia…

Dan dikemudiannya saya hanya terdiam, tanpa tau bagiamana ekspresi saya saat itu. Mama segera mendekati saya dan bertanya ada apa… Dan saya kaget sendiri bahwa sebuah suara keluar dari mulut saya sendiri, ya…itu suara saya… saya katakana pada mama: “Ma, dia bilang…mungkin perasaan dia ke Ayu hanya perasaan Kakak-Adik lagi…”

Mama menyentuh bahu saya, saya segera tersadar. Segera saya tersenyum riang lagi, menyambar segelas susu coklat di atas meja, mencium mama, salaman dengan mama, dan melambai riang: “Ayu berangkat ke kerja yaaaa…. Assalamualaikum…”

Tidak…Tidak ada yang tau persis bagaimana perasaan saya pagi itu. Saya datang dengan sapa riang ke kantor, menjalani  hari seolah hari itu biasa saja. Saya mengajar dan praktek dengan riang gembira. Saya sengaja. Padahal di dalam hati saya seolah diremas dari dalam. Periiiiiiiiih sekali. Tapi saya tertawa saja, dan mencoba mencuri-curi semua tawa dan senyum semua orang yg saya temui, untuk saya simpan dan membiaskannya pada diri saya sendiri. Ingin sekali rasanya hari itu saya pergi entah kemana. Pokoknya pergi dan tertawa. Saya memang menyedihkan.

Dan komunikasi yang tadinya saya usahakan tetap seceria mungkin padanya seketika saya hentikan! Saya ingat bahwa saat itu terakhir saya mengirim sms pada dia masih seceria mungkin, saya katakan padanya untuk tetap berdoa dan jaga kesehatan dengan kalimat bercanda. Dia tidak membalas, dan itu sudah baik bagi saya. Saya hanya cukup tau diri untuk tidak mengganggu semua proses yang sedang dia jalani. Bukankah dia juga telah pernah mengatakan bahwa saya adalah “pilihan terakhir” diantara semua pilihan-pilihan itu. Saya cukup tau diri. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya paham…saya mengerti.. Memangnya saya ini siapa???!!  Dan saya sempat menuliskan dalam Diary: “…saya terkejut bahwa secepat itu bagi nya melupakan semua… ataukah mungkin saya aja yang kelewat kegeeran?! Mungkin saat itu dia hanya bercanda aja. Emang saya ini siapa??! Dia hanya berkata seperti itu pada pilihan-pilhannya yang special! Ayoooooolah lebih tau diri!!!!”

Oktober 2010

Saya benar-benar berhenti menghubunginya. Berusaha menahan diri dan lebih tega pada diri saya sendiri! Saya berusaha membuat diri saya lebih banyak memikirkan diri saya sendiri, menghargai diri saya sendiri. Meskipun saya tidak bisa menipu diri saya sendiri bahwa saya masih saja memikirkan dia, bedoa untuknya. Di tiap doa malam saya, saya mengadu pada Allah, tentang semua… kadang mennagis hingga ketiduran.

Keluarga, sahabat, semua orang diperlihatkan semakin menyanyangi saya. Hingga membuat saya merasa betapa jahatnya saya membuat mereka kecewa pada saya yang tidak memeperdulikan perasaan saya sendiri. Saat itu secar bergantian saya meminta maaf pada keluarga dan sahabat saya, bahwa saya telah membuat mereka kecewa dengan seolah-olah saya tidak memeperdulikan kasih sayang mereka pada saya. Padahal mereka masih tetap membuka pelukan untuk saya, tapi sayalah yang menepis semua itu. Saya bersyukur  berada diantara mereka semua. Mereka tidak pernah menyalahkan saya, bahkan tidak pernah mengatakan saya salah dan mereka benar. Mereka mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan dan sedang saya lakukan saat itu adalah hal wajar. Memang begitulah kita saat kita yakin dan ingin buktikan semua. Keluarga saya dan sahabat-sahabat saya, mereka semua mengatakan bahwa saya tidak perlu merasa bersalah dan malu atas apa yang telah saya lakukan. Tidak ada yang menyalahkan atau menertawai saya atas keyakinan saya untuk menunggunya. Mereka memahami saya…

Saya menjalani hati-hari yang tetap ceria. Meskipun pikiran saya masih saja melayang-layang.  Sampai-sampai mereka semua pake istilah: “Flying without wings” untuk saya, dan mereka semua bilang bahwa mereka semua sedang rame-rame megangin tali tak kasat mata supaya saya melayang tetap pada arah yang bener. Dan mereka bahkan bilang seneng-seneng aja tuh megangin tali untuk saya dan ngebiarin saya melayang-layang begitu, lucu….kata mereka.

Kondisi yang peuh canda tawa dan mampu mebuat segala situasi terasa lbh ringan seperti itu sangat membantu saya untuk tetap waras. Terkadang hal-hal yang telah saya alami akan dijadikan lelucon utk ditertawakan bersama dengan sangat lebay… dan semua pun tertawa. Saya paham, maksudnya bukan untuk menertawai saya, tapi justru membuat saya lebih kuat dan menopang saya lebih tegak dengan tegap.

Jangan tanya bagiamana sulitnya membunuh semua pikiran atau perasaan yang mendadak muncul tentang dia. Sangat berat… dan saya terus mencoba untuk berdamai dengan semua kedaan itu. Saya mencoba memahami apa yang saya alami dan menanggapinya dengan bijak (*menurut saya), dengan cukup tau diri.

Akhir Desember…

Tertatih-tatih saya menjalani hari. Tapi bersyukur saya dikelilingi orang-orang baik yang tetap membantu saya mewarnai hari dengan ceria.

Beberapa hari di penghujung Desember, dia sms mengirim sms pada saya, menanyakan kabar saya. Jujur saja waktu itu saya senang sekali, tapi buru-buru saya kembali mengingat untuk tau diri. Saat itu saya sdg sendirian di kantor. Saya bingung mau balas apa, bahkan saya bingung mau ngapain.  Akhirnya saya balas dan menanyakan kabarnya. Dia sempat mengatakn bahwa dia akan berkunjung ke kota saya pada akhir tahun. Saya tanya “kapan?” (*sadarkah dia bahwa itu adalah pertanyaan tentang “kapan dia akan kesini” yang kedua kalinya dari saya? Saya memang baru 2x bertanya kapan dia akan ke kota saya. Pertama kali saya menanyakan pertanyaan ini, dia tertawa dan mengatakan saya seperti anak kecil dan meminta saya tidak lagi mengungkapkan perasaan.)

Dia bilang belum pasti kapan berangkat. Dan diam-diam saya menyimpan harapan bahwa dia akan sampai ke sini dengan selamat. Meskipun saya masih takut pada kenyataan seperti yang sudah-sudah…

Awal Desember 2010

Semkain banyak yang saya alami, saya ingin sekali berbagi dengannya, tapi saya cukup tau diri. Sampai suatu saat saya “keluar”, benar-benar sendrian di jalanan, tidak bisa kembali “pulang”, hujan… saya bersama teman-teman saya. Saya terusir… saya menangis… benar-benar menangis sendirian. Tiadk saya biarkan air mata terkjatuh di depan mereka. Dalam perjalanan tanpa tujuan, saya berdoa pada Allah untuk tetap melindungi saya. Dan yang saya ingat waktu itu hanya dia… ingin sekali saya menghubungi nya… sekedar mendengar dia tertawa, tanpa dia harus tau apa yang saya alami… tapi saya tdk bisa melakukan itu…

Dan justru saya mengetahui sesuatu lagi tentang dia, dan itu menambah air mata saya yg terbendung… saya tidak biarkan jatuh. saya tau bahwa MUNGKIN BUKAN SAYA.. dia telah menemukan…. Saya diperlihatkan sendiri…

Saya tahan lagi semua yang saya tau, sendiri….

31 Desember 2010…

Saya terbangun di subuh dengan debar tidak karuan. Saya tau bahwa ini adalah akhir tahun Hijriah. Saya ingat tentang kata-kata saya pada keluarga saya dan sahabat-sahabat saya bahwa saya menunggu kepastian hingga Desember untuk sebuah kepastian, untuk semua pengertian saya atas semua tentang dia…

Pagi-pagi saya berangkat ke kantor, sengaja memilih jalan memutar agar terasa lebih jauh. Saya ingin melihat lebih banyak. Saya sengaja membawa pakaian cadangan karena hari itu saya dan sahabat-sahabat mau berkumpul di salah satu rumah sahabat kami.

Pulang kerja, saya dijemput oleh sahabat saya (*yang  mengirimkan inbpx kepada dia). Lama kami saling ngobrol, tentang penantian kepastian saya hingga Desember. Dan dengan tingkat kesintingan saya yang luar biasa, saya katakana pada sahabat saya bahwa saya yakin Dia akan kesini, meskipun saat ini dia sedang sibuk berat. Dan sambil bercanda, saya katakan: “ntar, jam 8 orangnya nyampe siniiiii!!!! Sekarang dia masih sdg kerjaaaaaaa!!!”

Dan ternyata sahabat saya ini lebih sinting lagi, sahabat saya ini langsung sms Dia, tadinya saya ga tau kalo dia ngirim sms. Begitu ada sms balasan, sahabat saya ini memperihatkan isi sms dari dia yang memberitahu bahwa sepertinya bukan akhir tahun dia kesini karena masih sdg kerja. Dia bertanya pada sahabat saya, dari mana tau kalo dia akan kesini.

Sahabat saya terpingkal-pingkal melihat reaksi saya, dan sayalah yang diminta membalas sms itu. Jd saya balas aja dgn sangat singkat. Sempat saya tersungkur dan menahan tangis di ujung tempat tidur kamar sahabat saya…

Dan kami pun segera tancap gas ke sebuah caffe favorit kami berdua. Lick Latte caffe…. Hhhmmmmm….cukup panjang ttg saat-saat di Lick Latte… tidak usahlah diceritakan….

Saya tiba di rumah jauuuuuuuuh lebih cepat dari semua sahabat-sahabat saya.  Ditengah hujan deras, petir menyambar, dan angin kencang…. Saya dan sahabat bersepeda motor menembus malam. Tidak ada yang peduli pada kami berdua. Saya tau, bahwa sahabat saya ini bersedia melakukan apa saja untuk kebahgiaan saya, bahkan mengantarkan saya kemanapun yang membuat saya bahagia meski hujan badai sekalipun. Saya ingat kalimatnya hari itu: “pergilah kalo kaw mau pergi…ga akan aku tahan! Untuk apa kaw disini kalo kaw ga bahagia!”

Saya tau bahwa sahabat saya mengigil menahan dingin yang membeku ditengah hujan deras malam itu. Tapi dia tetap berada di depan saya, melindungi saya, mengantarkan saya kemanapun saya mau. Ynag sebenarnya saya dan sahabat sama-sama tidak mau. Saya tau dia menahan tangis! Saya tau dia marah, dia marah karena tidak bisa marah pada saya! Dia sangat marah! Tapi tidak bisa marah!

Saya sendiri juga menahan air mata, cukuplah hujan saja yg menangis malam itu… jangan saya… ingin sekali malam itu saya dimarahi oleh sahabat saya itu, saya ingin dimarahi! Saya ingin menangis! Inilah kenyataan… dan saya bisikkan pada sahabat saya… ”aku percaya dia akan datang…”

Saya tau, sahabat saya tidak mampu mendengar bisikan saya ditengah hujan deras mengguyur basah kami… Tapi saya tau, Allah Maha Mendengar….

Detik-detik menjelang akhir tahun. Akhir Desember… belum ada tanda-tanda kedatanggannya di akhir tahun itu… Saya katakan pada Allah… bahwa jika ini baik, ridhoi lah saya untuk memberikan waktu pada diri saya sendiri untuk sekali lagi memberikan waktu dan memahami semua ini… bahwa saya masih ingin mengerti dia…saya masih ingin menunggu dia… Saya sampai meulis Diary panjang sekali…

Saat itu saya dan mama duduk di teras atas sambil menunggu kembang api…. Begitu kembang api mulai bersahut-sahutan, sms pun masuk ke ponsel saya, dari dia…

Ingiiiiiin sekali untuk ketiga kalinya saya menyakan kapan dia kesini. Akhirnya saya bermain kata-kata dengan bertanya: “ga jadi kesini?” (*sengaja saya tidak bertanya “kapan”,cukup 2 kali saja, biarlah saya yang tau bahwa saya menunggu) Dia bilang: “Jadi kok”

Itu saja sudah cukup bagi saya. Saya tidak bertanya apa-apa lagi.

6 Januari 2011

Malam itu saya sedang pengajian bulanan, tiba-tiba sebuah sms masuk ke ponsel saya, dari dia… “Hanya secuil saja….”

Dan seperti disambar petir, saya langsung menyadari bahwa dia pasti telah membaca tulisan blog saya yang saya posting di akhir Desember 2010! Untuk semua pengertian saya hingga akhir Desember. Itu adalah sebuah tulisan yang saya tulis bersama-sama dengan tulisan ini. Tadinya saya menulis semua ini sesuai dengan ringkasan Diary saya tentang dia yang telah berbuku-buku ini. Saya hanya ingin berbagi saja. Tapi entah kenapa saat tulisan ini akan di posting, saya malah memotong postingannya, hingga yg saya posting hanya tulisan dari bulan Januari 2009 – Maret 2010. Dan menyimpan kelanjutannya hingga waktu tertentu. Saya menyimpan part April 2010 – Oktober 2010 di dalam dfrat. Dan baru berani membuka lagi hari ini untuk melanjutkan menulis ini.

Saya panik saat tau dia membaca potingan saya yg berjudul “Hanya Secuil Saja”, saya tidak tau mau membalas apa, lagi pula saya sdg mengikuti pengajian. 2 kali dia sms saya lagi.

Ketika saya sampai di rumah, saya kumpulkan segenap keberanian dan puing-puing hati saya yg terserak dan berceceran tak tentu arah utk menghubunginya. Stelah sekian lama akhirnya saya menghubunginya. Saya senang bisa mendengarnya dan bercanda dengannya lagi. Dia sempat bilang akan kesini, dan saya hanya tertawa saja sambil berkata semoga selamat sampai tujuan. Ya, dalam hati saya memang berharap, tapi cukuplah saya simpan saja….

7 Januari 2011

Siang itu saya sedang di labor, mengajar. Ada kupu-kupu hitam yang ga mau pergi dan nempel terus di baju saya. Akhirnya saya biarkan aja nempel selama saya cuap-cuap di depan kelas. Saat saya sdg mengajar, ada sms masuk ke ponsel saya, dari kode kota saya berada. Saya mulia berpikir, apakah ini dia? Karena isi sms nya hanya menyapa saja… di menit berikutnya memang ada sms masuk lagi, dari nomor dia dengan isi pesan yg sama. Dan saya paham itu memang dari dia. Tapi… benarkah dia sudah sampai disini? Saya tidak tau.

Saat malam, sekali lagi saya perhatikan sms tadi siang. Benar itu dari dia. Benarkah dia sudah disini?  Tapi dimana?

8 Januari 2011

Seperti biasa saya bangun subuh. Saat memilih pakaian yang akan dikenakan di hari Sabtu itu, entah kenapa mata dan tangan saya hanya memegang baju ungu kesayangan saya. Saya ingat bahwa saya memakainya untuk jalan-jalan bersama keluarag atau sahabat-sahabat, pokoknya untuk acara yang memang untuk bergembira. Sampe-sampe warnanya jadi ga keliahatan ungu lagi. Saat Mama melihat saya mengenakan baju itu, mama jadi terheran, ngapain saya pake baju itu lagi ke kampus, kan warnanya udah ga jelas. Saya hanya mengatakan bahwa saya ingin pake aja…

Hari itu luar biasa sibuk. Pagi itu adalah hari pertama kegiatan kemahasiswaan. Hari itu juga saya terlibat dalam mempersiapkan acara Baksos ke luar kota. Saya pontang-panting ke kantor, ke kelas, ke labor. Saat saya sedang di Labor, sibuk sendiri menyortir barang-barang yang akan dibawa Baksos besok. Telpon saya bordering, ternyata dari teman kantor saya. nadanya mencurigakan, jadi saya tanya: “Ada apa kak?”

Mereka semua cekikian dan meminta saya segera ke kantor sekarang juga, ada yang mau ketemu.  Saya heran, biasanya kalo mau ketemu saya dan saya sdg di labor, ya ke labor aja langsung. Mereka semua berebut mau bicara dengan saya, telponnya digilir, mencurigakan sekali! Akhirnya seorang teman kantor bilang bahwa DIA ada dikantor, mau ketemu saya!

Saya shock!!!! Orang-orang di kantor emang sering banget ngerjain saya! saya memang selalu jadi korban untuk dikerjain karena saya yang paling kecil dan katanya paling seru untuk jadi korban penganiayaan! Saya langsung ngomel-ngomel ke mereka: “ga lucu!!!! Ga usah ngerjain!!! Ayu sdg sibuk!!!”

Berkali-kali mereka meyakinkan saya kalo mereka emang ga bercanda, bahkan sampe bilang gini: “Yawdah, kalo Ayu ga mau ketemu DIA, yang lama aja di Labor itu!!!”

Glek!! Gak main-main ini! Jadi saya buru-buru keluar Labor menuju kantor dengan membawa sekardus peralatan Baksos. Cukup kesulitan saat saya harus menaiki tangga menuju kantor dengan kardus di kanan dan keranjang di kiri. Belom lagi saya harus menahan debar dan getar di lutut saya kalo-kalo DIA memang udah disini. Begitu sampai di lantai 3, saya terdiam, ketakutan untuk naik ke lantai 4 menuju ruangan saya. Takut kalo-kalo saya emang dikerjain, kan saya sdg berharap nih, tega bgt ya kalo-kalo dikerjain! Saya sempat ketemu teman-teman kantor yang kebetulan sedang papas an di tangga. Dan sekali lagi mereka bilang: “tuuuuuuh…orangnya udah di atas… mau ketemu ato gak? Kalo gak, ya ga usah ke atas. Tapi pliiis…kali ini percaya sama kami, kali ini kami ga bercanda ato ngerjain! Ini beneran!”

Dan sekali lagi saya teriak: “Gaaaaakkk!! Ngerjain nih kan?!! Awas yaaa!!!”

Sepanjang anak tangga, saya komat-kamit berdoa, bertasbih…

Begitu sampai di ujung tangga lantai 4…. Memang ada seseorang yang berdiri membelakangi tangga, menghadap kea rah jendela…. Saya terdiam, memang terlihat sperti dia dari belakang, saya perhatikan lagi sampai kepala saya mereng ke kanan, dan buru-bur u saya pejamkan mata dan berlalu dibelakangnya. Saya segera masuk ke dalam ruangan saya yang diambut dengan senyum-senyum ga jelas oleh orang di ruangan. Saya langsung sewot: “apaaaaa??????!!! Senyum-senyum????!!”

Mereka langsung rame: “ciiiyyyeeee…udah ketemu Yaw?”

“Ketemu apa????”

“ituuuuuu….orangnya nungguin tuh!”

“mmmaaaannnnnaaaaaa??? Mannnnnnaaaaa???? (*celingukan dgn lebay) Ga ada tuh!!”

“Hah?? Masa ga ketemu?! Yang di luar itu tuuuuuh…..”

“udahlah…ga usah ngerjain!”

Saya pun sibuk menyusun barang lagi ke dalam kardus yang dipersiapkan untuk acara Baksos besok. Dan tiba-tiba udah ada aja seseorang berdiri di depan pintu menghalangi cahaya matari memasuki ruangan kami, otomatis saya langsung melongok kea rah pintu dan…..

OH MY GOD!!!!! @#$%^&*!!!  HE IS STANDING THERE!!!!!!!!


Itu adalah kedua kalinya mata saya bertemu dengan matanya! Setelah 2 tahun berlalu, itulah kali pertama bertemu lagi… terserah orang mau bilang ini konyol! Tapi memang saya baru sekali bertemu dengan dia. Dan hari itu adalah kali kedua akhirnya saya bertemu lagi dengannya!!!

Kalo aja waktu itu saya megang lampu, bisa nyala sendiri kali ya karena loncatan listriknya! Saya langsung merosot ke bawah meja!! Kebiasaan memalukan! Saya kangsung sembunyi di balik jilbabnya  teman sekantor saya!! Saya ga tau mesti ngapain!!!

HE IS HERE!!!!

HE IS STANDING THERE!!!!

STANDING AT MY DOOR!!!!

Teman-teman saya cekikikan sambil bilang: “itu tuuuuhhh orangnya….”

Dan saya, dengan tololnya, ga tau mesti ngapain dan bilang apa, masih merosot di bawah meja sambil narik-narikin jilbab temen saya, saya bilang gini sambil nunjuk-nunjuk ke pintu: “iiii…iiiii…ituuuu siii…siiii..siapa???!! Ayu takut!!”

Iya, iya saya tau itu adalah klaimat sangat bodoh untuk menyambut kedatangan seseorang. Padahal saya udah siapin kalimat penyambutan yang lebih cerdas dari pada kalimat seperti itu. Tapi karena ini dadakan, mana sempat saya liat contekan kalimat apa yang mau saya katakan. Hewhewhewhew…

To be Continued….

(*kemudian saya hanya bisa mengantarkan kepergiannya….

Nanti saya posting lagi kisah selanjutnya… terlalu panjang kalo diposting bersama yang ini… Terimakasih untuk semua…)