(No Tittle)

I LOVE YOU


Bolehkah?

Dengan Cara yang Jauh Lebih Baik

Rain in my heart…

Hiks… Hikss….

Aduh.. maaf nih ya… baru mukodimah tapi udah dimulai dengan tangisan…

Jujur saja, saya memang sedang bersedih, berduka, bermuram durja, sangaaaaaaaaaat paraaaaaaah…..

Saya tau, meski dengan saya bersedih terus-terusan, keadaan mungkin tidak akan berubah, bahkan waktu pun tidak akan berhenti sejenak hanya untuk berpihak pada saya. tapi saya juga manusia biasa, perempuan biasa, ada kalanya saya benar-benar bersedih, meski mungkin setiap orang yang melihat saya detik ini akan melihat saya baik-baik saja, masih dandan dengan manis, msih melangkah dengan riang, masih menyapa dengan senyum gembira, masih menebarkan semangat kemana-mana, masih akan konsntrasi mendengrakan kamu bercerita, masih akan mengeluarkan joke-joke yang membuat tawa berderai-derai… Saya suka sekali tawa… Tawa mampu menguatkan saya, meski tawa itu mungkin tidak ada hubungannya dengan saya…

nyaris mabok karena kesedihan mendalam

Tolong, tolong beritahu saya bagaimana caranya bisa sdikit mengurangi kesedihan mendalam? saya hanya mau mengurangi sedikiiiit saja, karena untuk menghilangkannya pasti akan sulit sekali, makanya saya tidak mau muluk-muluk…

Bagai petir di siang bolong yang cerah ceria, saat saya berdiri di puncak gedung sendirian lalu mesti mendengar suatu kejujuran…

Saya menghargai semua kejujuran, tapi apa rasanya jika kamu pura-pura tidak tau tentang kejujuran yang sebenarnya kamu sudah tau? Kamu hanya mencoba terus-terusan memainkan peranmu (bukankah ada lagunya “duniaaaa iniiiiiii panggung sandiwaraaaaa”), padahal sebenarnya kamu sudah tau. Kamu mencoba menunggu sampai kejujuran itu terungkap sendiri lansung darinya. Karena dia menunggu waktu yang tepat untukmu. menunggu jiwa dan raga mu siap menerima itu…

Lalu… saya merasa katakanlah saja…walau mungkin saya akan sakit stelahnya. Tapi paling tidak sudah ada jujur disitu, jangan.. jangan… lagi membicarakanku dibelakangku.. itu sakit… apalagi jika kalimat itu tidak ku dengar sendiri…

Mungkin efek sakitnya sama saja, tapi tentu saja persepsinya akan berbeda…

aku ga nangis kok….

Aku sudah berkali-kali mencoba melempar kail, berharap ikan kejujuran akan muncul… tapi tidak juga…

Ku coba menghapus peluh… Mungkin memang bukan waktu yang tepat bagiku mendegar kejujuran itu. Tapi terkadang, fikiran ku terusik juga dengan pertanyaan…”menunggu timing yang pas? untuk siapa? untuk aku? atau untuk nya sendiri?”

rasanya benar-benar inigin meledag saja!! Saya sudah berkali-kali bertanya: “apa tidak ada yang inigin diceritakan atau dijelaskan?”

Tapi ternyata tidak. Saya tidak ingin percaya pada apa yang mereka katakan sebelum saya dengar sendiri. Meski semua itu cukup mengusik  saya. Tapi saya tau, karena semua sayang padaku, semua peduli padaku… saya percaya bahwa mereka semua adalah orang-orang paling baik…

Baiklah…akhirnya saya memilih untuk menentukan sendiri timing itu (melalui sujud dan doa yang dalam sepanjang malam…), mungkin saya dan dia sebaiknya sama-sama membantu agar timing itu segera datang. Dan mungkin harusnya sayalah yang mengatakan bahwa saya akan membantu memudahkannya untuk menjelaskan pada saya, agar tidak perlu sulit mencari waktu dan cara yang baik untuk menjelaskan pada saya. Karena bagi saya… hari ini…nanti.. atau besok… rasanya akan tetap sama-sama sakit…

tidak tahan lagi…

Dan.. bertuntungnya saya… bahwa semuanya bisa dibicarakan dengan baik, sangat baik malah… bahkan sambil tertawa-tawa… Mungkin kalo saja saat itu tidak ada jarak ruang, mungkin saja hal ini bisa dibicarakan sambil ngopi-ngopi dan rebutan camilan.. Hewhewhewhew…

Saya benar-benar plong rasanya… karena sudah mendengar sendiri, walau lebih banyak saya yang bertanya, dan dia hanya menjawab saja ya atau tidak… Tidak apalah… paling tidak saya sudah dengar…

Saya masih bisa bercanda dan tertawa-tawa setiap hari begini saja rasanya sudah bersyukur…

Setelah itu semua, semua yang peduli pada saya memastikan keadaan saya… and I say: “VERRRRRRYYYYYYY FIIIIINNNEEEEE!!!!”

Bukankah yang saya inginkan hanya melihatnya Bahagia? itu sudah saya tuliskan sangat BESAR di buku harian saya sejak nyaris setahun yang lalu!!! Sejak dia mulai masuk ke dalam doa-doa saya…

Dan Agustus nanti akan menjadi satu tahun lengkap, dan rasanya masih tidak berubah… masih akan ada dia di doa-doa saya… bahkan subuh ini pun masih saja begitu… setelahnya saya tersenyum sendiri…

Kalo saya sendirian, mungkin rasa sakitnya akan menjadi-jadi, akan sangat sakit malah… tapi saya ingat lagi.. untuk apa saya menahan sakit terlalu lama. Lagipula bukankah memang mungkin saya bukanlah apa-apa sejak dahulu…

jadi ya sudahlah…

Kemudian seorang teman datang membawa buku The 7 Laws of happinness nya Arvan Pradiansah… saya sgera lahap buku itu, dan saya semakin sadar… bahwa memang yang saya cari adalah KEBAHAGIAAN… (sampe sekarang tiap pagi saya nyempatin diri sejenak mendengar CD dari The 7 Laws of Happines yang saya kopi ke folder saya)

Kebahagiaan adalah lebih mengutamakan proses, tanpa terlalu memikirkan hasil akhirnya…

Kesuksesan adalah lebih mengutamakn mencapai target yang memang diinginkan…

Dan memang, dari dulu saya suka sekali pada proses, bahkn saat menyeruput kopi-kopi kiriman oleh-oleh dari saudara atau teman, apapun itu kopinya, bagaimanapun rasanya, saya tau itu kopi… yah begitulah rasanya kopi… tapi saat saya menyeduhnya, marasakan aromanya dan mulai menyeruputnya… pikiran dan hati saya bahkan lupa pada rasanya… saya lebih membayangkan bagaimana kopi ini mulai di tanam, dipetik, disimpan, diolah, hingga saya seduh dan kini mulai melewati tengorokan saya… saya benar-benar menikmati saat-saat itu…

Bahkan meski saya lupa sudah berapa banyak macam kopi yang saya coba, saya tetap lupa bagaimana spesifikasi persis tiap-tiap rasanya.Yang saya tau.. ini kopi.. rasanya ya begini!! Banyak teman-teman atau sodara minta rekomendasi saya saat memilih kopi, sayas endiri hanya tersenyum saja, dan memintanya memilih saja mana yang mereka suka… Tiap kopi akan punya keunikan tersendiri, tergantung bagaimana cara kita menikmatinya kan??

Dan saya pun mencoba menikmati semua rasa sakit ini… Ini sakit, ya saya tau!! Ini sakit!! beginilah rasanya! Tapi bagiamana cara saya menikmati sakit ini, tergantung saya sendiri! mungkinsaat-saat tertentu saya masih tengggelam dalam kesedihan, tapi ya sudahlah… ini perjalanan hidup bukan? saya pasrah… pasrah bukan berarti meyerah dan berpangku tangan! INi teguran dari Tuhan untuk saya agar saya intropeksi diri. Agar saya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Brsyukur atas apa yang telah saya miliki.

Kata Arvan Pradiansah… “Bersyukur adalah berhenti sementara dari suatu moment…”

Kata Arvan Pradiansah, yang saya artikan sebagai ini: “Kegagalan bukan berarti semuanya terhenti, itu hanya agar kita memperbaiki diri, memulai lagi dengan cara yang jauh lebih baik…”

hmmmm… ya!!!

Ya sudah.. mungkin hanya itu yang bisa saya tulis sekarang…

Mari kita mencoba untuk menjadi lebih baik lagi…

mari kita kembangkan diri kita untuk terus merasa Bahagia…

Bahwa kebahagian tergantung diri kita sendiri…

The 7 Laws of Happiness, by Arvan Pradiansah:

1. Sabar (patience).

2. Syukur (gratefulness).

3.Sederhana (simplicity).

4. Kasih (love).

5. Memberi (giving).

6.Memaafkan (forgiving).

7. Pasrah (surrender).

Nb: Buat Dia…

Terimakasih untuk semua itu, maafkan saya jika terlalu banyak kesalahan saya yang membuat kamu “ilfil” tapi masih mau berusaha menjaga perasaan saya… Tetaplah bahagia…

(kalo bisa itu dengan saya!! Hahahaha!! Jitak ciek luw!! Udah ga boleh ya?!! ;p)