Yes, i’ll back!! Masih dengan cerita-cerita ga penting saya… Dan semoga masih ada yg menyasarkan diri berkunjung dan membaca ini. daripada ga ada bacaan lain. Lagi-lagi inim masih tulisan hasil reaksi dari tulisan saya sebelumnya di media lain (baca: Notes Facebook.- red). Waktu itu beberapa bulan yg lalu saat saya entah kesambet apa dan salah makan apa, saya nulis notes dengan judul “TOPENG”. Ternyata reaksinya cukup membuat saya senyum sendiri. It’s not just fiction, (*apaan sih bahasanya?????*), dan it’s not trully reallity. (lagi-lagi apaa-apaan ini bahasanya?) Dan jika saat itu ataupun disaat berbeda kamu berada disisi saya ataupun tidak disisi saya dan memahami itu, mungkin reaksi setelah membaca itu adalah ngakak ga berenti-berenti!
Dan kali ini saya ingin menulis sekuel berikutnya dari tulisan saya itu. Karena fiksi ataupun nyata, itu adalah yang terjadi. Semua itu berada diantara batas maya dan nyata. dan mereka yg terlibat dan paham di dalamny boleh tersenyum bahkan berniat mengejar saya keliling kompleks perumahan karena ingin menjitak kepala sotoy saya!
 |
Diuber-uber beberapa pihak terkait! |
Dan rasanya ada baiknya saya copy paste dulu notes saya berjudul “TOPENG” itu disini.
 |
Baik di eloh belum tentu baik di guweh, Yaw! |
Okey let’s we reads again!!!!!!!!!
Topeng
oleh Ayaw Jeweltz pada 18 Mei 2011 jam 17:33
Kau datang disaat aku terluka berdarah-darah…
Kau menanyai dimana aku berada.
Aku…
Di dalam topeng!
Dan kau datang…
Juga di dalam topeng!
Aku di dalam topeng cerah ceria!
Di dalamnya berdarah-darah, ringkih, sakit, pilu, marah!
Kau di dalam topeng bersemangat!
Di dalamnya lelah, bosan, suntuk, lapar, lupa!
Aku tau apa yang di dalam topeng…
Kau tau apa yang di dalam topeng…
Itu saja sudah cukup!
Biar yang mereka lihat hanya topeng kita!
Mereka pun melihat dari dalam topeng mereka sendiri!
Biar saja!
Kau… Mengajakku bangkit!
Aku… Mengajakmu tertawa!
Kita ingin dunia selalu penuh warna! Penuh keceriaan dan semangat kita! Biar saja mereka bilang apa!
Kita mau dianggap serba lebih… Serba lux… Serba segalanya! Terserah!
Tuhan dan kita yang tau bagaimana kita!
*terimakasih untuk “senja di mata kita”…
Saat aku lupa cara mengepakkan sayap, kau mengingatkannya… (^_^)
Seperti obrolan ringan kita senja ini saat melewati si penjual topeng… Topeng dengan wajah monyet seram sekali…
“tuh…liat! Mirip kau!”
“enak aja! Kau lebih seram dari itu! Kalo kau sih ga perlu susah-susah beli topeng itu! Udah lebih seram!”
“ngapain juga aku mesti beli topeng itu?! “KAN AKU UDAH ADA KAU”!
Kau benar…
Kau sudah ada Aku… (^_^)
*
* it just “Specially for You…”
“…No more dreaming about tomorrow…
Forget the loneliness and the sorrow…
I’ve got to say, it’s all because of You! I will back together! Together! I wanna show You… My heart is ooooohhh…so true! And all the love I have is Specially for You…”
 |
Ciiihuuuuyyyy… asik bgt ga tuh? |
Yep, begitulah notes saya waktu itu. Dan yg terlibat menjadi inspirasi saya di senja yg aneh itu, ngakak guling-guling waktu membaca ini. Wwwaaaahhh…dia ga tau aja kalo saya udah mabok janda kepayang nulis notes itu. Eniwei…apapun percikan yg sampai saat kita membaca sebuah tulisan, itu sih sah-sah aja bagi saya. Bahkan cerita sebanarnya pun yg tertuang sangat ironis-metafora dalam tulisan di atas sah-sah aja, asal pembaca ga tau aja kalo saya dan si inspirator udah jambak-jambakan dan toyor-toyoran kepala di sepanjang jalan sebelum notes ini tertuang begitu manis. Itu karena dia, begitu Istimewa bagi saya. Kalo aja saya boleh F*lling in L*ve sama dia, udah mendadak minta dinikahin tuh saya sama dia! Tapi apalah daya, saya dan dia sudah teramat sangat nyaman berada di zona abu-abu ini. Karena dia satu-satunya yg tau mengapa saya masih begini, apa rencana saya, mengapa saya memutuskan untuk “MENAHAN” hingga saatnya tiba, bahkan sekedar untuk mengatakan “r*ndu” pun maaf saja, saya “menahan”.
 |
Terpenjara di Zona Abu-Abu! |
And… cukup ah ngoceh-ngocehnya, lama-lama tar jadi curcol!!
Sekarang, selamat membaca sekuel kedua dari “TOPENG”, saya tulis disini, supaya dia ga bisa baca! hahahahahahahah…
Bijakmu, Kawan yang menuntunku…
Playing now: “…Kau datang hilangkan mendung yg selalu menaungi jiwa, kau pijaran jingga nyala yg menerangkan gulita kalbu. Tak ku duga mimpiku tlah terwujud, kau disini ‘tuk lindungi jawaban atas cemas hati. Ku tau kalian tiada pernah bisa memiliki aku, tetapi arti C*ntamu teristimewa… KAU YANG TERMANIS DI DALAM KISAHKU, SUARA KEPERCAYAAN HATI. KAU SIBAK KENYATAAN MESKIPUN GETIR. KAU YANG TERMANIS DI DALAM KISAHKU AJARI MAKNA KEHIDUPAN. PERJUANGKAN ANGAN TIADA PUTUS ASA.
BIJAKMU KAWAN YANG MENUNTUNKU…”
(*demikian lirik lagu Saras Dewi yang menemani After Office Hours kita*)
“Hoy…duduk sini, di teras!” (Dia memanggil saya)
“Gak ah, mendingan di dalam!”
“Lho? katanya mau After Office Hours di senja yg indah? katanya mau spent an evening with me?”
“Emangnya kalo di dalam trus ga jadi senja gitu?”
“Hmmm…ntahlah!! Cape berantem!”
“Kenapa kamu kesini? Bukannya harusnya kamu pulang?”
“Ntahlah, cuma mau kesini, pusing! Kamu sendiri tadi kenapa bohong? kamu bilang sama dia kalo kamu ada janji. Padahal cuma di sini sendirian.”
“Hmmm…cuma ga mau di temui aja, walopun itu berarti aku kehilangan momment dgn dia.”
“Ada kopi? gimana kalo kita ngopi?”
Hmmmm… dalam hati saya tersenyum sendiri.Itu yg sdg saya teriakkan dalam hati: I NEED MORE COFFEE!!! Dan saya tau, saat kamu melangkahkan kaki mu kesini, sebenarnya kamu juga butuh KOPI. KOPI yg cuma kita yg tau.
“Ada. Mau yg smooth seperti kemarin atau yg strong seperti aku kemarin?”
“Smooth. Lagi ga butuh dikerasin!”
“Wahahahahaha…dodol! Buatin aku ya, aku malas beranjak dari sini!”
“OK.”
Saya kaget dan buru-buru bangkit No! No!! Jangan sampe dia buatkan saya kopi! Ini Filosofi KOPI dan JENDELA milik saya! Jangan sampe!!! jangan sampe!! saya buru-buru ke daur dan segera mengambil gelas dari genggaman kanannya.
“Biar aku bikin sendiri!”
“Lho? kamu kenapa? kesambet?”
“gak, gak kenapa-napa.”
“Hhhmmm…ini tentang KOPI dan JENDELA ya? wahahahahaha…bodoh! tenang aja, aku buatin kopi, tp jendelanya buka sendiri!!!”
“Enak aja!!! ga ada yg bikinin kopi, ga ada yg bukain jendela!! No, danke!!”
“hahah..trus mau ngopi dimana kalo ga di jendela? Wahahahahahahahaha…”
“Dimana aja bisa, asal ga di jendela, apa lagi sama kamu!”
Tidak ada maksud apa-apa tentang kopi dan jendela. saya dan dia sudah membahas ini berabad-abad lamanya. Dia protes tentang tidak ada kopi yg bisa dia buatkan utk seseorang, dia protes tidak ada jendela yang dibukakan untuknya! Sementara saya…saya lebih protes terhadap protesnya itu! Apa-apaan coba selagi dia bisa melakukan semuanya sendiri?! Saya aja ga perlu dibuatkan kopi atau dibukain jendela, toh masih bisa ketawa-ketawa! Walopun sebenarnya pengen… :p
“Eh…masih hapal lagu-lagunya Saras Dewi gak?” Dia merusak lamunan saya. Kenapa dia selalu memaksa saya utk menapakkan kaki ke bumi??!!!
“Iya, masih…”
“HEYY!!!! WAKTU ITU KAN KAMU NGILANGIN KASET SARAS DEWI AKU!!!”
“KAN WAKTU ITU UDAH AKU GANTI!!!!”
“IYA, TAPI GANTINYA BUKAN KASET SARAS DEWI!!!”
“TAPI ITU YG PALING AKU SUKA SAAT ITU! TRUS KAN AKHIRNYA AKU MATI-MATIAN NYARI KASET ITRU DAN KETEMU, TRUS MALAH KAMU YG NGILANGIN SENDIRI!!! “
 |
Tuuuhhh kan mulai berantem lagi! |
Saya memang menghilangkan benda kesayangannya saat itu. Entah bagaimana bisa saya menghilangkannya. Saat itupanik dan merasa bersalah luar biasa. Saya segera menggantikan dengan sesuatu yg paling saya sayang. Saya pikir, saya harus rela memberikan apa yg paling saya sayang untuk mengantikan apa yang sudah saya hilangkan. Itu pelajaran yg sungguh berarti bagi saya di masa putih-dongker saya. Padahal sebenarnya mungkin saat itu dengan mudahnya saya tinggal bilang ke Mama atau Papa bahwa saya menghilangkan kaset dia. Mungkin saat itu saya dinasehati oleh Mama dan Papa, dan mungkin Mama dan Papa akan mencarikan gantinya. Tapi saya pikir, dia terlalu istimewa, sehingga saya pun harus mendapatkan pelajaran istimewa. Bahkan saat akhirnya setelah mati-matian mencari k semua tempat dan memakan waktu berhari-hari, saya menemukan kembali kaset itu, saya mengembalikannya, tanpe peduli lagi dgn halkesayangan yg sudah saya berikan utk dimilikinya. Saya senang melihat dia menertawakan kekonyolan saya menebus kesalahan.
“…teman yang terhanyut arus waktu, mekar mendewasa, maih ku simpan suara tawa kita… kembalilah sahabat lawasku, semarakkan keheningan lubuk…” Dia bersenandung kecil sambil memainkan cangkir Kopi nya.
Saya melanjutkannya: “…hingga masih bisa ku raih dirimu, sosok yg mengaliri cawan hidupku, bilakah kita menangis bersama, tegar melawan tempaan, semangat mu itu…Lemmbayung Bali…”
“Salah!!! liriknya kebalik!! harusnya: Bilakah diriku berucap maaf, masa yg tlah ku ingkari.. cinta! aaahhh…kamu payah!”
Saya menahan tawa di dalam hati, saya hanya tidak bisa mengucapkan kalimat itu. “Iiiyyhhh…suka-suka aku donk! kan aku yg nyanyi!!!”
“ya lah…ya lah… ada lagi lagu yg best of the best!”
“apa?”
“..Kau datang hilangkan mendung yg selalu menaungi jiwa…” dia nyengir dan saya segera melanjutkan lagunya sambil tertawa…
“..kau pijaran jingga nyala yg menerangkan gulita kalbu…”
lalu berdua kita menyanyikan: “…Tak ku duga mimpiku tlah terwujud, kau disini ‘tuk lindungi jawaban atas cemas hati. Ku tau kalian tiada pernah bisa memiliki aku, tetapi arti C*ntamu teristimewa… KAU YANG TERMANIS DI DALAM KISAHKU, SUARA KEPERCAYAAN HATI. KAU SIBAK KENYATAAN MESKIPUN GETIR. KAU YANG TERMANIS DI DALAM KISAHKU AJARI MAKNA KEHIDUPAN. PERJUANGKAN ANGAN TIADA PUTUS ASA.BIJAKMU KAWAN YANG MENUNTUNKU...”
Mungkin, dia tidak tau saat saya menanyikan lagu itu, itu tulus untuknya, itu tulus tentangnya. Dia yang paling bijak, meski saya sering marah-marah atas bijak sikapnya itu.
Saya bisa lihat lelah dimatanya, tapi tidak dai perlihatkan. Saya bisa lihat bahunya yang kadang turun karena nyaris putus asa, tapi tidak pernah dia berkeluh tentang apa yg dijalaninya. Kalau saja aku dibolehkan menangis, aku sudah menangis sejadi-jadinya atas apa yg dijalaninya kini.Dan aku tau dia sangat kuat utk jalani ini.
“Yaw, aku kadang memang merasa sulit menjalani ini. Ini tahun berikutnya aku jalani ini, dan itu yg membuat aku semakin yakin bahwa aku pasti bisa menjalani ini! Paiiiiittt banget Yaw, pait! Tapi yg kemaren aja aku bisa jalani kan?”
“Iya..iya… kamu kuat! aku percaya! kalau mau mengeluh, mengeluh aja. walaupun sebenarnya kita ga boleh mengeluh, kadang dgn mendengarkn keluhan org lain, itu bikin yg lain merasa lebih kuat. karena aku juga butuh dikuatkan.”
“Yaw, maaf, aku malah cerita kayak gini…”
“Ga, ga papa. Aku disini utk mendengarkan kamu, mungkin cuma itu yg bisa aku lakukan…”
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Ya, bersamamu saja, bagiku sudah cukup bagiku. Biarlah ALLAH yg mencukupkan semuanya,karena ALLAH lah yg MAHA TAU, Maha Tau apa yang hambaNya butuhkan.
“Tau gak? Saat kamu mengambil jalan itu, aku benar-benar semakin yakin kalo kamu tu kuat. Kamu berani mengambil jalan itu disaat aku masih sibuk berbenah dan memersiapkan.”
“Aku juga maunya gitu Yaw. Semua orang maunya gitu.Dan selagi kamu masih punya kesempatan itu, persiapkan. Aku ga pernah mau kalo kamu sampe kehilangan kesempatan hanya karena kamu takut melewatkan kesempatan lain.”
BIJAKMU KAWAN YANG MENUNTUNKU…
—————————————————————————————————-
AAAYYYYYYeeeeeaaahhhhhh…. saya ga bisa bayangkan reaksinya kalo sampe dia baca ini, bisa-bisa di muncul di depan jendela saya, pakasa saya keluar utk getok kepala saya pake tas laptopnya! :p
Eniwei…saya cuma mau bilang ke dia. Suatu saat kamu akan lebih banyak membantu mereka yg telah mencabik-cabik harga dirimu.Membuatmu mengukur kota ini lebih teliti, mengetuk pintu dan berharap itu pintu menuju gerbang lain dari keadaan ini. Aku disini berasam si kecil itu…akan tetap tersenyum utk berusaha memberi lebih banyak. Bukan untuk memblas mereka, hanya utk buktikan bahwa kita juda bisa meberi dengan apa yg kita punya… (^_^)
 |
Meski kita sering bertengkar, itu adalah bagian kisah kita..di zona Abu-Abu! |
Singing: “…Lalui angin ku dengar R*ndumu. Di balik kereta yg melaju ku dengar debarmu. Seiringan gema bisikmu S*Y*NGIku… Ku lepas kau susuri perjalanan, perjuangan yg belum usai serentak, meski haus batin ini. Biar waktu menghalang ‘kan slalu ada ruang tercuri untukmu… Saat ia mengawang dengan lelah kecuplah matanya yg indah, layangakan… aku S*Y*NG dia hingga akhir….”